Posted by: ahahermanto | March 28, 2013

ORGANOKLORIN

“ORGANOKLORIN”

Oleh:

Arif Hermanto                 0910480020

Aviva Aviolita P. P.         0910480024

Dhewyangga Bismi P.      0901480042

R. Ardian Iman P.           0910480260

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


 

  1. 1.         PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sektor pertanian telah mengakibatkan peningkatan pencemaran lingkungan oleh bahan kimia buatan manusia. Di antara polutan-polutan tersebut, terdapat polutan organik yang disebut organoklorin. Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah (Ebichon dalam Soemirat, 2005).

Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama. Terdapat pula kemungkinan terjadinya bioakumulasi dan biomagnifikasi. Dikarenakan karakteristiknya yang sulit terbiodegradasi dan kelarutannya yang tinggi dalam lemak, organoklorin dapat terakumulasi dalam jaringan hewan yang prosesnya disebut biokonsentrasi. Biomagnifikasi dapat terjadi pada hewan yang terlibat dalam rantai makanan. Pestisida jenis ini masih digunakan di negara-negara berkembang, terutama di daerah khatulistiwa. Hal ini dikarenakan harganya yang sangat murah, keefektifannya, dan persistensinya. Kebanyakan negara berkembang terletak di daerah yang beriklim tropis dimana pada umumnya memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi. Iklim yang seperti itu dapat membuat perpindahan residu melalui udara dan air secara cepat dan akhirnya berkonstribusi terhadap kontaminasi global.

Proporsi pestisida yang akan mencapai target, seperti hama, ditemukan tidak lebih dari 0,3% dari yang diaplikasikan, sedangkan 99% lainnya akan berada di lingkungan (Karina S.B, Julia E., and Victor J. Moreno, 2002). Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi). Faktanya, organoklorin juga telah dilarang di Indonesia, namun masih banyak petani yang menggunakannya. Telah dibuktikan bahwa organoklorin masih terkandung dalam tanah di daerah pertanian Pantura Jawa Barat. Hal ini menandakan organoklorin masih digunakan di daerah tersebut. Jenis organoklorin yang terdeteksi adalah DDT, Dieldrin, Endrin, dan masih banyak lagi. Dikarenakan kondisi daerah pertanian di Jawa Barat tidak terlalu berbeda, maka tanah daerah pertanian di Sub DAS Citarum Hulu diperkirakan mengandung senyawa organoklorin (Nugraha, 2007).

1.2   Tujuan

–         Untuk menegtahui deskripsi pestisida organoklorin

–         Untuk menegtahui toksikologi pestisida  organoklorin

–         Untuk mengetahui mekanisme peracunan pestisida organoklorin

–         Untuk menegtahui sasaran organism dari pestisida organoklorin

–         Untuk mengetahui dampak aplikasi pestisida organoklorin terhadap lingkungan dan kesehatan.

 

2. PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi

Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk mengendalikan, mencegah,  atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, nematode, gulma, virus, mikroorganisme lainnya yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya  yang terdapat pada manusia dan hewan. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Disamping itu pestisida dalam budidaya pertanian dapat memperbaiki tampilan produk pertanian. Akan tetapi disis lain pestisida dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Sehingga dapat meningkatkan polutan di lingkungan, diantara polutan-polutan tersebut terdapat polutan organik yang disebut organoklorin.

Organokhlorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri dari beberapa kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling populer  dan pertama kali disinthesis adalah “Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT.

Klasifikasi Pestisida organokhlorin

Kelompok Komponen
Cyclodienes Aldrin, Chlordan, Dieldrin, Heptachlor, endrin, Toxaphen, Kepon, Mirex.
Hexachlorocyclohexan Lindane
Derivat Chlorinated-ethan DDT

Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksisk terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah (Ebichon dalam Soemirat, 2005). Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama. Terdapat pula kemungkinan terjadinya bioakumulasi dan biomagnifikasi. Dikarenakan karakteristiknya yang sulit terbiodegradasi dan kelarutannya yang tinggi dalam lemak, organoklorin dapat terakumulasi dalam jaringan hewan yang prosesnya disebut biokonsentrasi. Biomagnifikasi dapat terjadi pada hewan yang terlibat dalam rantai makanan. Pestisida jenis ini masih digunakan di negara-negara berkembang, terutama di daerah khatulistiwa. Hal ini dikarenakan harganya yang sangat murah, keefektifannya, dan persistensinya. Kebanyakan negara berkembang terletak di daerah yang beriklim tropis dimana pada umumnya memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi. Iklim yang seperti itu dapat membuat perpindahan residu melalui udara dan air secara cepat dan akhirnya berkonstribusi terhadap kontaminasi global. Proporsi pestisida yang akan mencapai target, seperti hama, ditemukan tidak lebih dari 0,3% dari yang diaplikasikan, sedangkan 99% lainnya akan berada di lingkungan (Karina S.B, Julia E., and Victor J. Moreno, 2002).

Salah satu jenis Pestisida yang umum digunakan di Indonesia adalah golongan organoklorin (Tarumingkeng, 1992). Kelompok Pestisida organoklorin mulai diperkenalkan pemerintah pada pertanian sejak awal 1950 (Untung dalam Sudaryanto et al., 2007). DDT digunakan selama program pemberantasan penyakit malaria sebanyak 2600 ton/tahun selama tahun 1974 – 1982 khususnya di Pulau Jawa (UNIDO, 1984). Organoklorin dikelompokkan menjadi 3, yaitu : diklorodifenil etan (contoh : DDT, DDD, portan, metosiklor, dan metioklor), siklodin (contoh : aldrin, dieldrin, heptaklor, klordan, dan endosulfan), dan sikloheksan benzene terklorinasi (contoh : HCB, HCH, dan lindan). Organoklorin merupakan pencemar utama dalam golongan Persistent Organic Pollutant yang sedang dipermasalahkan di dunia akibat sifatnya yang toksik kronis, persisten dan bioakumulatif (Zhou et al., 2006). Dalam jangka waktu 40 tahun, organoklorin masih ditemukan di lingkungan dan biota, dan terdistribusi secara global bahkan ke daerah terpencil di mana organoklorin tidak pernah digunakan (Sudaryanto et al., 2007).

Sejak akhir 1990, semua jenis Pestisida organoklorin sudah dilarang penggunaannya di Indonesia. Namun karena harganya yang murah, mudah digunakan, dan efektif membasmi hama, maka beberapa jenis organoklorin seperti DDT masih digunakan di Indonesia, selain karena kurangnya ketegasan peraturan dan hukum yang berlaku (Sudaryanto et al., 2007).

2.2 Toksikologi

Toksikologi adalah studi tentang efek samping bahan kimia yang menjelaskan tentang hubungan antara dosis dan efek terhadap organisme terkena. Kriteria utama mengenai racun kimia adalah dosis, yaitu jumlah paparan substansi. Organofosfat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II.

Pada awal sintesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP),parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai Pestisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap manusia seperti malathion, tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.

Pestisida dalam kelompok ini mengandung Klorin, Hidrogen dan Karbon. Kadang-kadang ada juga yang mengandung Oksigen dan Sulfur. Organoklorin mengandung unsur karbon, hidrogen, dan klorin (DDT dan D3 aldrin). Daya racun terhadap organisme tertentu dinyatakan dalam nilai LD 50 ( Lethal Dose atau takaran yang mematikan). LD 50 menunjukkan banyaknya racun persatuan berat organisme yang dapat membunuh 50% dari populasi jenis binatang yang digunakan untuk pengujian, biasanya dinyatakan sebagai berat bahan racun dalam milligram, perkilogram berat satu ekor binatang uji. Jadi semakin besar daya racunnya semakin besar dosis pemakainnya.

Senyawa-senyawa OK  (organokhlorin, chlorinated hydrocarbons) sebagian besar menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen selubung sel syaraf (Schwann cells) sehingga fungsi syaraf terganggu.  Peracunan dapat menyebabkan kematian atau pulih kembali. Kepulihan bukan disebabkan karena senyawa OK telah keluar dari tubuh tetapi karena disimpan dalam lemak tubuh.  Semua Pestisida OK sukar terurai oleh faktor-faktor lingkungan dan bersifat persisten, Mereka cenderung menempel pada lemak dan partikel tanah sehingga dalam tubuh jasad hidup dapat terjadi akumulasi, demikian pula di dalam tanah. Akibat peracunan biasanya terasa setelah waktu yang lama, terutama bila dose kematian (lethal dose) telah tercapai. Hal inilah yang menyebabkan sehingga penggunaan OK pada saat ini semakin berkurang dan dibatasi. Efek lain adalah biomagnifikasi, yaitu peningkatan peracunan lingkungan yang terjadi karena efek biomagnifikasi (peningkatan biologis) yaitu peningkatan daya racun suatu zat terjadi dalam tubuh jasad hidup, karena reaksi hayati tertentu.

2.3 Sasaran

Pestisida organoklorin merupakan pestisida dengan spektrum luas, jadi semua serangga dapat dikendalikan dengan pestisida jenis ini. Pestisida organoklorin merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur.

2.4 Mekanisme Peracunan

Pada serangga organoklorin membuka  saluran ion natrium di neuron, menyebabkan serangga akan  secara spontan mengalami  kejang dan akhirnya kematian. Adapun cara kerja organoklorin lainnya adalah  dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian.

Apabila organoklorin menginhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusatreseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer, hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

2.5 Dampak Terhadap Lingkungan dna Kesehatan

Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi). Faktanya, organoklorin juga telah dilarang di Indonesia, namun masih banyak petani yang menggunakannya. Telah dibuktikan bahwa organoklorin masih terkandung dalam tanah di daerah pertanian Pantura Jawa Barat. Hal ini menandakan organoklorin masih digunakan di daerah tersebut. Jenis organoklorin yang terdeteksi adalah DDT, Dieldrin, Endrin, dan masih banyak lagi. Dikarenakan kondisi daerah pertanian di Jawa Barat tidak terlalu berbeda, maka tanah daerah pertanian di Sub DAS Citarum Hulu diperkirakan mengandung senyawa organoklorin (Nugraha, 2007).

Dampak organoklorin bagi kesehatan manusia seperti kejang mirip epilepsy,mual, muntah, sakit kepala, gelisah dan tremor. Dan juga dapat kehiilangan kesadaran, fibrilasi ventrikel, dan depresi nafas (Annoymous, 2010).

3. PENUTUP

Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah. Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama.

Organoklorin mengandung unsur karbon, hidrogen, dan klorin (DDT dan D3 aldrin). Daya racun terhadap organisme tertentu dinyatakan dalam nilai LD 50 ( Lethal Dose atau takaran yang mematikan). LD 50 menunjukkan banyaknya racun persatuan berat organisme yang dapat membunuh 50% dari populasi jenis binatang yang digunakan untuk pengujian, biasanya dinyatakan sebagai berat bahan racun dalam milligram, perkilogram berat satu ekor binatang uji. Jadi semakin besar daya racunnya semakin besar dosis pemakainnya.

Pestisida organoklorin merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. Mekanisme peracunan organoklorin lainnya adalah  dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian. Apabila organoklorin menginhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusatreseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer, hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi).

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2010. Dampak Organoklorin. http://zadchrist.blogspot.com/2010/05/keracunan-organokolin.html. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2012. Organoklorin. http://blog.ub.ac.id/danik/2012/02/15/pestisida/. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2011. Pestisida  Organoklorin. http://kimiapestisida.webnode.com/Pestisida/. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2010. Senyawa Kimia Organoklorin. http://4skyn4ri4fis.wordpress.com/2010/07/28/materi-dasar-atom-ion-dan-molekul/. Diakses 28 Februari 2012.

Miglioranza, Karina SB; de Moreno, Julia E. Aizpun; de Moreno, Victor J. 2002. Dynamics of Organochlorine Pesticides in Soils From a Southeastern Region of Argentina. Environmental Toxicology and Chemistry, Vol 22, pages 712-717

Soemirat, Juli. 2005. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sudaryanto A., Monirith I., Kajiwara N., Takahashi S., Hartono P., Muawanah, Tanabe S. 2007. Levels and Distribution of Organochlorine In Fish from Indonesia. Environmental International, 33(6), 750-758.

Tarumingkeng R. 1992. Pestisida: Sifat, Mekanisme Kerja dan Penggunaannya. Jakarta : Penerbit Ukrida. Nugraha. 2007. Evaluasi Penggunaan Pestisida Organoklorin di Persawahan di Pantai Utara Jawa

UNIDO. 1984. Indonesia : Consultation on Research and Development for Pesticide Production in Indonesia. Technical report. Vienna : United Nations Industrial Development Organization.

Zhou R., Zhu L., Yang K., Chen Y. 2006. Distribution of Organochlorine Pesticides in Surface Water.


Responses

  1. apik pembahasan e, coba adike2 di ajari gae blog HiMAPTA, di iseni artikel2 tekan tugas2 kuliah,….one step better.

  2. iyo mass….hahah
    website e HiMAPTA ws dadi, kari dikelola tok kok🙂 More Step Be Better


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: