Posted by: ahahermanto | April 29, 2012

Laporan Praktikum IPT “Pembuatan Media dan Plating”

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN

“Pembuatan Media PDA dan Plating”

 

Oleh:

Nama         :    Arif Hermanto
NIM            :    0910480021
Kelompok   :    Jum’at, 07.30 WIB
Asisten        :    Eko Famuji A.

 

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Media pertumbuhan mikrobia adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrien yang diperlukan mikroba untuk pertumbuhannya. Dengan menggunakan bahan medium pertumbuhan, aktivitas mikroba dapat dipelajari dan dengan menggunakan medium tumbuh dapat dilakukan dengan isolasi mikrobia menjadi biakan murni. Pada dasarnya bahan – bahan untuk pertumbuhan medium dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu bahan dasar yang meliputi air, agar yang bersifat diuraikan oleh mikroba, gelatin yang merupakan protein yang dapat diuraikan oleh mikroba, dan silika gel yaitu bahan yang mengandung natrium silikat khusus untuk menumbuhkan mikrobia yang bersifat obligat autotrof, unsur – unsur nutrien yang dapat diambil dari bahan alam, meliputi karbohidrat, lemak dan asam – asam organic, sumber nitrogen yang mencakup pepton dan protein, garam – garam kimia (K, na, Fe dan Mg), Vitamin, dan sari buah, ekstrak sayuran dan susu.

Secara media buatan dibuat untuk menumbuhkan dan emelihara suatu biakan jasad renik, mempelajari pengaruh jasad renik terhadap suatu zat di dalam media atau sebaliknya, mendapatkan zat-zat yang dihasilkan jasad renik. Sehingga pemahaman tentang pembuatan media buatan menjadi sangat penting.

 

1.2. Tujuan

  1. Untuk mengetahui cara pembuatan media buatan untuk pertumbuhan mikroorganisme.
  2. Untuk mengetahui macam – macam media buatan.
  3. Untuk mengetahui mekanisme pembuatan media PDA (Potato Dextrose Agar).
  4. Mengetahui cara plating media.

1.3. Manfaat

  1. Mengetahui cara pembuatan media buatan.
  2. Mengetahui dan mampu melakukan pembuatan media PDA.
  3. Mengetahui macam – macam media buatan.
  4. Mengetahui cara plating media.
  5. Mengetahui cirri –ciri dan gejala media yang terkontaminasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Macam – macam media tumbuh mikroorganisme

Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Berikut ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi.

1.      Lactose Broth

Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth) untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test untuk koliform.     Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa.

2.      EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)

Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti S. aureus, P. aerugenosa, dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella sp dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli.

Agar EMB (levine) merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan eosin dan metilin bklue sebagai indikator memberikan perbedaan yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut mengandung sukrosa karena kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan sukrosa daripada laktosa. Untuk mengetahui jumlah bakteri coli umumnya digunakan tabel Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (most probable number) atau tabel JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air.

3.      Nutrient Agar

Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.

Untuk komposisi nutrien adar adalah eksrak beef 10 g, pepton 10 g, NaCl 5 g, air desitilat 1.000 ml dan 15 g agar/L. Agar dilarutkan dengan komposisi lain dan disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit. Kemudian siapkan wadah sesuai yang dibutuhkan.

4.      Nutrient Broth

Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Intinya sama dengan nutrient agar. Nutrient broth dibuat dengan cara sebagai berikut.
1.Larutkan 5 g pepton dalam 850 ml air distilasi/akuades.

2.Larutkan 3 g ekstrak daging dalam larutan yang dibuat pada langkah pertama.
3.Atur pH sampai 7,0.

4.Beri air distilasi sebanyak 1.000 ml.

5.Sterilisasi dengan autoklaf.

5.      MRSA (deMann Rogosa Sharpe Agar)

MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape (1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat selektif, sehingga ada kemungkinan Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis bakteri lain dapat tumbuh. MRS agar mengandung:

1.Protein dari kasein 10 g/L
2.Ekstrak daging 8,0 g/L
3.Ekstrak ragi 4,0 g/L
4.D (+) glukosa 20 g/L
5.Magnesium sulfat 0,2 g/L
6.Agar-agar 14 g/L
7.dipotassium hidrogen phosphate 2 g/L
8.Tween 80 1,0 g/L
9.Diamonium hidrogen sitrat 2 g/L
10.Natrium asetat 5 g/L
11.Mangan sulfat 0,04 g/L
MRSB merupakan media yang serupa dengan MRSA yang berbentuk cair/broth.

6.      Trypticase Soy Broth (TSB)

TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas bakteri patogen.
Media TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi media bernutrisi untuk bermacam mikroorganisme.

Dekstrosa adalah sumber energi dan natrium klorida mempertahankan kesetimbangan osmotik. Dikalium fosfat ditambahkan sebagai buffer untuk mempertahankan pH.

7.      Plate Count Agar (PCA)

PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.

8.      APDA         
Media APDA berfungsi untuk menumbuhkan dan menghitung jumlah khamir dan yeast yang terdapat dalam suatu sampel. Khamir dan yeast akan tumbuh dengan optimal pada media yang sesuai. Adanya asam tartarat dan pH rendah maka pertumbuhan bakteri terhambat.

APDA dibuat dengan merebus kentang selama 1 jam/45 menit, agar dilelehkan dalam 500 ml air. Campurkan ekstrak kentang dalam agar lalu ditambahkan glukosa dan diaduk rata. Pada APDA jadi ini juga ditambah asam tartarat.

9.      Potato Dextrose Agar (PDA)

PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Cara membuat PDA adalah mensuspensikan 39 g media dalam 1 liter air yang telah didestilasi. campur dan panaskan serta aduk. Didihkan selama 1 menit untuk melarutkan media secara sempurna. Sterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit. Dinginkan hingga suhu 40-45°C dan tuang dalam cawan petri dengan pH akhir 5,6+0,2.

10.  VRBA (Violet Red Bile Agar)

VRBA dapat digunakan untuk perhitungan kelompok bakteri Enterobactericeae. Agar VRBA mengandung violet kristal yang bersifat basa, sedangkan sel mikroba bersifat asam. Bila kondisi terlalu basa maka sel akan mati. Dengan VRBA dapat dihitung jumlah bakteri E.coli. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat VRBA adalah yeast ekstrak, pepton, NaCl, empedu, glukosa, neutral red, kristal violet, agar). Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan 1 liter air yang telah didestilasi. Panaskan hingga mendidih sampai larut sempurna. Dinginkan hingga 50-60°C. Pindahkan dalam tabung sesuai kebutuhan, pH akhir adalah 7,4. Campuran garam bile dan kristal violet menghambat bakteri gram positif. Yeast ekstrak menyediakan vitamin B-kompleks yang mendukung pertumbuhan bakteri. Laktosa merupakan sumber karbohidrat. Neutral red sebagai indikator pH. Agar merupakan agen pemadat.

11.  PGYA        
Media ini berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir. Dengan adanya dekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan untuk mengidentifikasi mikroba terutama sel khamir. Untuk membuatnya, semua bahan dicampur dengan ditambah CaCO3 terlebih dahulu sebanyak 0,5 g lalu dilarutkan dengan akuades. Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan disumbat dengan kapas lalu disterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit.

(Anonymous,2012)

2.2.    Media PDA (Potato Dextrose Agar)

PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan salah satu media yang banyak digunakan untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungi, bakteri, maupun sel makhluk hidup. Potato Dextrose Agar merupakan paduan yang sesuai untuk menumbuhkan biakan. Karena ekstrak potato (kentang) merupakan sumber karbohidrat, dextrose (gugusan gula, baik itu monosakarida atau polysakarida) sebagai tambahan nutrisi bagi biakan , sedangkan agar merupakan bahan media/tempat tumbuh bagi biakan yang baik, karena mengandung cukup air.(Anonymous, 2012)

PDA merupakan media yang biasa digunakan untuk menumbuhkan jasad renik. PDA termasuk media buatan karena komposisi serta kandungan unsur-unsur di dalamnya tidak diketahui secara pasti. Ada 2 jenis media lainnya yaitu media 1/2 buatan dan media buatan murni. Sesuai dengan namanya PDA ini bahannya antara lain dari kentang 200 g, agar-agar 15 g, Aquadest 1 l, Dextrose 20g. Karena media ini digunakan untuk menumbuhkan jasad renik maka kandungan bahan-bahan di atas mesti mencukupi nutrisi lah istilahnya bagi jasad renik tersebut. Kentang di sini yang diambil adalah ekstraknya dan berfungsi sebagai mineral. destrosa atau gula berfungsi sebagai sumber energi, dan agar nya sebagai lingkungan.

Penggunaan dari media ini bertujuan antara lain untuk:

  1. Menumbuhkan dan emelihara suatu biakan jasad renik.
  2. Mempelajari pengaruh jasad renik terhadap suatu zat di dalam media atau sebaliknya.
  3. Mendapatkan zat-zat yang dihasilkan jasad renik.

(Widyawati, 2010)

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Alat dan Bahan serta fungsi

      a.      Alat

  1. Kompor                       : Untuk merebus kentang, dan memanaskan media.
  2. Panci                           : Untuk tempat bahan – bahan untuk pembuatan media.
  3. Pengaduk                    : Untuk mengaduk bahan yang dipanaskan.
  4. Botol / Erlenmeyer      : Untuk memasak kentang.
  5. Kain lap                       : Untuk membuka sekaligus mengambil media yang disterilisasi di   autoklaf dan juga mengambil panic panas dari atas kompor.
  6. Pisau                            : Untuk memotong kentang sebelum direbus.
  7. Sendok                        : Untuk mengambil dekstrose dan agar.
  8. Botol UC 1000           : untuk tempat media buatan.
  9. Cawan Petri                : Untuk tempat plating media.
  10. Autoklaf                    : Untuk mensterilsasi media dan alat – alat.

    b.     
    Bahan

    1. Kapas                          : Untuk menahan uap air dari media yang disterilisasi
    2. Alumunium Foil          : Sebagai penutup botol media.
    3. Kentang                      : Sebagai bahan yang diambil ekstraknya (sebagai mineral).
    4. Dextrose                      : Bahan pembuatan media (Sumber energi)
    5. Agar                            : bahan pembuatan media PDA
    6. Solatip                         : Untuk membungkus media yang sudah di-plating (Wrapping).
    7. Bunsen                        : memanaskan alat di dalam LAF

3.2. Pelaksanaan Pembuatan Media PDA

  1. Kupas Kentang dan Potong dadu
  2. Rebus dalam 800ml air
  3. Tunggu hingga mendidih dan kentang menjadi lunak
  4. Sisakan airnya (Tiriskan kentang)
  5. Campur dextrose + 100 ml Aquadest
  6. Campur Agar + 100 ml Aquadest
  7. Tuang ke larutan kentang
  8. Tunggu hingga mendidih (Diaduk)
  9. Tambahkan antibacterial (Klorampenicol)
  10. Tuang ke botol UC 1000
  11. Tutup dengan kapas dan alumunium foil
  12. Sterilkan dengan autoklaf selama ± 45 menit

3.3. Pelaksanaan Plating

  1. Media buatan PDA yang sudah beku dipanaskan ±30 menit
  2. Nyalakan blower dan UV di dalam LAF ± 15 menit , kemudian nyalakan lampu
  3. Panaskan ujung botol dan juga tepian petridisk pada bunsen
  4. Tuang media ke dalam cawan petri yang sudah steril
  5. Tunggu hingga media menjadi beku
  6. Cawan petri di-wrapping

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Media yang dibuat dalam praktikum ini adalah Potato dextrose Agar (PDA). Pembuatan media PDA dilakukan dengan mengambil air rebusan kentang yang dicampurkan dengan dextrose sebanyak 20 gr dan agar sebanyak 20 gr. Campuran tersebut kemudian ditambah dengan anti bakteri. Potato Dextrose Agar merupakan salah satu media yang banyak digunakan untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan/fungi, bakteri, maupun sel makhluk hidup.

Potato Dextrose Agar merupakan paduan yang sesuai untuk menumbuhkan biakan mikroorganisme . Karena ekstrak potato (kentang) merupakan sumber karbohidrat, dextrose (gugusan gula, baik itu monosakarida atau polysakarida) sebagai tambahan nutrisi bagi biakan , sedangkan agar merupakan bahan media/tempat tumbuh bagi biakan yang baik, karena mengandung cukup air. Sebelum menumbuhkan mikroorganisme dengan sebaik-baiknya, pertama-tama harus dapat memahami kebutuhan dasarnya lalu mencoba memformulasikan suatu medium yang memberikan hasil yang terbaik.

Yang dimaksud dengan medium disini adalah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme diatas atau didalamnya. Pada praktikum ini media ditambahkan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan dari bakteri yang kemungkinan mengkontaminasi media. Jika antibiotik tidak ditambahkan dan bakteri mengkontaminasi media maka nutrisi pada media akan berkurang dan dilihat dari waktu tumbuhnya bakteri mampu tumbuh dengan waktu 24 jam sedangkan jamur 1 – 3 minggu. Sterilisasi dilakukan dalam autoklaf dengan suhu 125°C dalam waktu ±15 menit an dengan tekanan 1 atm . Suhu ini merupakan ketetapan, karena umumnya organisme tidak dapat bertahan hidup pada suhu dan waktu tersebut. Setelah 15 menit, maka autokalaf dapat dimatikan. Biarkan autoklaf sampai tekanannya menjadi 0,setelah itu PDA baru dapat dikeluarkan.

Agar digunakan sebagai lingkungan bagi perkembangan organisme. Penggunaan agar karena merupakan suatu bahan yang cocok, meskipun padat, akan tetapi lunak dan mudah ditembus oleh biakan. Selain itu agar mengandung sejumlah air yang diperlukan bagi biakan. Agar lebih stabil bila dibandingkan dengan air yang lebih mudah menguap dan berubah. Semua pengerjaan penuangan PDA ke media dilakukan dalam laminar air flow, agar media tidak terkontaminasi. Untuk mencegah kondensasi yang berlebihan pada tutup cawan petri yang dapat menghasilkan uap air, maka suhu PDA saat dituang adalah sekitar 45oC.

Dari beberapa media yang sudah dimasukkan ke dalam botol, tidak ada media yang terkena kontaminasi. Hal ini menunjukkan bahwa sterilisasi media telah berhasil. Namun, pada saat media sudah di plating ke cawan petri ternyata ada beberapa media yang terkontaminasi, kemungkinan pada saat penuangan di dalam laminar air flow terjadi kontaminasi oleh mikroba yang belum diketahui secara pasti.

 


 

BAB V
KESIMPULAN

Media yang digunakan pada praktikum adalah media Potato Dextrose Agar. Karena ekstrak potato (kentang) merupakan sumber karbohidrat, dextrose (gugusan gula, baik itu monosakarida atau polysakarida) sebagai tambahan nutrisi bagi biakan , sedangkan agar merupakan bahan media/tempat tumbuh bagi biakan yang baik, karena mengandung cukup air.

Dari hasil pembuatan media PDA, tampak bahwa tidak ada media yang terkontaminasi mikroba pada saat disimpan. Namun, pada saat media di-plating (diletakkan pada cawan petri) beberapa media terkontaminasi mikroba.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2012. Macam – macam media tumbuh mikroba. http://www.serigala-buru.blogspot.com/ diunduh tanggal 12 April 2012

Anonymous. 2012. Media Potato Dextrose Agar.    http://manajemensumberdayaperairanusu.blogspot.com diunduh 12 April 2012

Widyawati, Rini. 2010. Laporan Praktikum Mikrobiologi. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Lambung Mangkurat. Banjarbaru

Semoga Bermanfaat
File Document dapat didownload disini


Responses

  1. wah di UB ada Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan juga ya?
    setau saya Jurusan itu saat ini cuma ada di 2 Univ. d Indonesia… Univ. lainnya udah masuk k prodi..🙂 *kata dosen saya
    oh ya Terimakasih postingannya, bisa buat referensi…
    salam proteksi… ^_^

    • iya…masih ada
      untuk prodi nya FP UB ada 2 Agroekoteknologi dan Agribisnis (HPT masuk dalam prodi agroekoteknologi.)

  2. ooo…. yaya….sepertinya saya salah kira… kata “prodi” dan “jurusan” sprtinya kebalik, berarti d UB itu Prodi di atasnya Jurusan kan… nah di fakultas saya Jurusan itu di atasnya Prodi..😀 ahaha.. *misalkan kaya’ d UB HPT itu jd Prodi, Agroekoteknologi jd jurusannya. loh malah ribut prodi jurusan… yg penting tetep HPT lah😀

  3. Salam proteksi…..heheh
    oyi2…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: