Posted by: ahahermanto | December 24, 2014

Peta Administrasi Kabupaten Tuban

Kondisi Umum Kabupaten Tuban

a.       Letak Geografis

Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur merupakan wilayah yang berada di jalur pantai utara (Pantura) Pulau Jawa, terletak pada koordinat 111o 30’ sampai dengan 112o 35’ Bujur Timur dan 6o 40’ sampai dengan 7o 18’ Lintang Selatan dengan batas – batas wilayah :

– Sebelah Utara    :  Laut Jawa

– Sebelah Timur    :  Kabupaten Lamongan

– Sebelah Selatan  :  Kabupaten Bojonegoro

– Sebelah Barat     :  Kabupaten Rembang dan Blora ( Jawa Tengah )

Jarak dari ibukota Propinsi Jawa Timur sekitar 103 km ke arah barat dengan jarak tempuh 1 jam 30 menit.

Luas wilayah  Kabupaten Tuban 183.994.562 Ha yang secara administrasi terbagi menjadi 20 Kecamatan dan 328 desa/kelurahan. Panjang pantai 65 km membentang dari arah timur Kecamatan Palang sampai barat Kecamatan Bancar,  Sedangkan luas wilayah lautan meliputi 22.608 Km2.

b.       Geologi

Secara geologi Kabupaten Tuban termasuk dalam cekungan Jawa Timur utara yang memanjang pada arah barat – timur mulai dari Semarang sampai Surabaya. Sebagaian besar Kabupaten Tuban termasuk dalam Zona Rembang yang didominasi endapan yang umumnya berupa batuan karbonat. Zona Rembang didominasi oleh  perbukitan kapur.

c.        Topografi

Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban berkisar antara 5 – 182 meter diatas permukaan laut (dpl). Bagian utara berupa dataran rendah dengan ketinggian 0 – 15 meter diatas permukaan laut, bagian selatan dan tengah juga merupakan dataran rendah dengan ketinggian  5 – 500 meter. Daerah yang berketinggian 0 – 25 m terdapat disekitar pantai dan sepanjang Bengawan Solo sedangkan daerah yang  berketinggian diatas 100 meter terdapat di Kecamatan Montong.

Luas lahan pertanian di Kabupaten Tuban  adalah 183.994,562 Ha yang terdiri lahan sawah seluas 54.860.530 Ha dan  lahan kering seluas 129.134.031 Ha.

d.       Iklim

Kabupaten Tuban merupakan kawasan yang beriklim kering dengan variasi agak kering sampai dengan sangat kering meliputi areal seluas 174.298,06 Ha (94,73%) dari luas wilayah Tuban, sedangkan sisanya kurang lebih 9.696,51 Ha (5,27%) merupakan Kawasan yang cukup basah.

e. Demografi
Penduduk merupakan faktor penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Karena disamping menjadi obyek pembangunan penduduk sekaligus menjadi pelaku pembangunan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk  mendapatkan data yang akurat tentang jumlah penduduk yang ada disuatu daerah. Beberapa metode dipakai dalam menghitung jumlah penduduk di Kabupaten Tuban diantaranya adalah melalui Sensus Penduduk, Survei Kependudukan, Registrasi Penduduk dan Penghitungan Kepadatan Penduduk.

Jumlah penduduk di Kabupaten Tuban tahun 2004 menurut hasil proyeksi penduduk mencapai 1.084.383 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki 535.655 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 548.728 jiwa.

Kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Tuban pada tahun 2004 adalah 589 jiwa  tiap Km2. Densitas tertinggi berada di Kecamatan Tuban dengan kepadatan 3.768 jiwa tiap Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kenduruan dengan tingkat kepadatan 307 jiwa tiap Km2.

Posted by: ahahermanto | April 1, 2013

Kabupaten Tuban

LOGO KABUPATEN TUBAN

PENJELASAN ARTI LAMBANG DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN

DASAR

Peraturan Daerah Kaupaten Tuban  Nomor: 2/Prt/DPRD-GR/69 tanggal 16 Agustus 1969 : Pasal 1

Lambang Daerah Kabupaten Tuban terbagai atas 8 bagian, yaitu:

1.    Perisai berdiri tegak yang bersudut lima

2.    Kuda hitam yang berdiri ditengah-tengah gapura putih.

3.    Gapura Putih

4.    Bintang Kuning emas bersudut lima diatas gapura putih

5.     Batu hitam berbentuk umpak yang menjadi tumpuan kuda hitam; dan pancaran air berwarna biru muda

6.    Pegunungan berwarna hijau daun jati dan bijinya untaian kacang tanah.

7.    Perahu emas dan laut biru

8. Kata “Tuban” ditulis diatas pita antara pangkal daun jati dan untaian kacang tanah.

Penjelasan arti Lambang Daerah KabupatenTuban

Bentuk perisai putih yang bersudut lima

Dengan jiwa yang suci murni dan hati yang tulus ikhlas masyarakat Tuban menjunjung tinggi Pancasila. Sekaligus merupakan perisai masyarakat dalam menghalau segenap rintangan dan halangan untuk menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa

Kuda Hitam dan Tapal Kuda Kuning

Kuda Hitam adalah kesayangan Ronggolawe, pahlawan yang diagungkan oleh masyarakat Tuban karena keikhlasannya mengabdi kepada Negara watak kesatriaannya yang luhur dan memiliki keberanian yang luar biasa.

Tapal Kuda Ronggolawe berwarna kuning emas melingkari warna dasar merah dan hitam melambangkan kepahlawanan yang cemerlang dari Ronggolawe.

Gapura putih ( Gapura Masjid Sunan Bonang )

Melambangkan pintu gerbang masuknya Agama Islam yang dibawakan oleh ” Wali Songo” antara lain Makdum Ibrahim yang dikenal dengan nama Sunan Bonang, dengan iktikad yang suci murni dan hati yang tulus ikhlas, masyarakat Tuban melanjutkan perjuangan yang pernah dirintis oleh para ” WaliSongo”

Bintang Kuning bersudut lima

Rasa Tauhid kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memancar didada tiap -tiap insan rakyat Tuban memberikan kesegaran dan keteguhan iman, dalam berjuang mencapai cita – cita yang luhur.

Batu Hitam berbentuk Umpak dan Pancaran air berwarna biru muda

Menunjuk dongeng kuno tentang asal kata Tuban

a.  Batu hitam berbentuk umpak ialah Batu Tiban
Dari kata ini terjadilah kata Tu – ban

b.  Pancaran air atau sumber air ialah Tu – banyu
( mata air) dari kata – kata Tu – ban

Pegunungan berwarna hijau daun jati dan bijinya serta untaian kacang tanah

Tuban penuh dengan pegunungan yang berhutan jati dan tanah-tanah pertanian yang subur dengan tanaman kacang

Pegunungan berwarna hijau mengandung arti: masyarakat Kabupaten Tuban mempunyai harapan besar akan terwujudnya masyarakat yang adil makmur yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa

Perahu Emas, Laut Biru dengan Gelombang Putih sebanyak tiga buah.

Sebelah utara Kabupaten Tuban adalah lautan yang kaya raya yang merupakan potensi ekonomi Penduduk pesisir Kabupaten Tuban. Penduduk Pesisir utara adalah nelayan-nelayan yang gagah berani.

Dalam kedamaian dan kerukunan masyarakat Daerah Kabupaten Tuban untuk membangun Daerahnya menghadapi tiga sasaran :

1.    Pembangunan dan peningkatan perbaikan mental dan kerohanian;

2.    Pembangunan ekonomi;

Pembangunan prasarana yang meliputi jalan-jalan, air dsb.

Keterangan angka

1.    Lekuk gelombang laut sebanyak 17: melambangkan tanggal 17

2.    Lubang Tapal Kuda berjumlah 8: melambangkan bulan Agustus

3.    Daun dan biji jati melambangkan angka 45.

dengan demikian masyarakat Kabupaten Tuban menjunjung tinggi Hari Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia. Semangat Proklamasi menjiwai perjuangan dan cita-cita masyarakat Kabupaten Tuban.

Posted by: ahahermanto | March 28, 2013

ORGANOKLORIN

“ORGANOKLORIN”

Oleh:

Arif Hermanto                 0910480020

Aviva Aviolita P. P.         0910480024

Dhewyangga Bismi P.      0901480042

R. Ardian Iman P.           0910480260

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


 

  1. 1.         PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sektor pertanian telah mengakibatkan peningkatan pencemaran lingkungan oleh bahan kimia buatan manusia. Di antara polutan-polutan tersebut, terdapat polutan organik yang disebut organoklorin. Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah (Ebichon dalam Soemirat, 2005).

Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama. Terdapat pula kemungkinan terjadinya bioakumulasi dan biomagnifikasi. Dikarenakan karakteristiknya yang sulit terbiodegradasi dan kelarutannya yang tinggi dalam lemak, organoklorin dapat terakumulasi dalam jaringan hewan yang prosesnya disebut biokonsentrasi. Biomagnifikasi dapat terjadi pada hewan yang terlibat dalam rantai makanan. Pestisida jenis ini masih digunakan di negara-negara berkembang, terutama di daerah khatulistiwa. Hal ini dikarenakan harganya yang sangat murah, keefektifannya, dan persistensinya. Kebanyakan negara berkembang terletak di daerah yang beriklim tropis dimana pada umumnya memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi. Iklim yang seperti itu dapat membuat perpindahan residu melalui udara dan air secara cepat dan akhirnya berkonstribusi terhadap kontaminasi global.

Proporsi pestisida yang akan mencapai target, seperti hama, ditemukan tidak lebih dari 0,3% dari yang diaplikasikan, sedangkan 99% lainnya akan berada di lingkungan (Karina S.B, Julia E., and Victor J. Moreno, 2002). Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi). Faktanya, organoklorin juga telah dilarang di Indonesia, namun masih banyak petani yang menggunakannya. Telah dibuktikan bahwa organoklorin masih terkandung dalam tanah di daerah pertanian Pantura Jawa Barat. Hal ini menandakan organoklorin masih digunakan di daerah tersebut. Jenis organoklorin yang terdeteksi adalah DDT, Dieldrin, Endrin, dan masih banyak lagi. Dikarenakan kondisi daerah pertanian di Jawa Barat tidak terlalu berbeda, maka tanah daerah pertanian di Sub DAS Citarum Hulu diperkirakan mengandung senyawa organoklorin (Nugraha, 2007).

1.2   Tujuan

–         Untuk menegtahui deskripsi pestisida organoklorin

–         Untuk menegtahui toksikologi pestisida  organoklorin

–         Untuk mengetahui mekanisme peracunan pestisida organoklorin

–         Untuk menegtahui sasaran organism dari pestisida organoklorin

–         Untuk mengetahui dampak aplikasi pestisida organoklorin terhadap lingkungan dan kesehatan.

 

2. PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi

Pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk mengendalikan, mencegah,  atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, nematode, gulma, virus, mikroorganisme lainnya yang dianggap hama kecuali virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya  yang terdapat pada manusia dan hewan. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Disamping itu pestisida dalam budidaya pertanian dapat memperbaiki tampilan produk pertanian. Akan tetapi disis lain pestisida dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Sehingga dapat meningkatkan polutan di lingkungan, diantara polutan-polutan tersebut terdapat polutan organik yang disebut organoklorin.

Organokhlorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri dari beberapa kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling populer  dan pertama kali disinthesis adalah “Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT.

Klasifikasi Pestisida organokhlorin

Kelompok Komponen
Cyclodienes Aldrin, Chlordan, Dieldrin, Heptachlor, endrin, Toxaphen, Kepon, Mirex.
Hexachlorocyclohexan Lindane
Derivat Chlorinated-ethan DDT

Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksisk terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah (Ebichon dalam Soemirat, 2005). Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama. Terdapat pula kemungkinan terjadinya bioakumulasi dan biomagnifikasi. Dikarenakan karakteristiknya yang sulit terbiodegradasi dan kelarutannya yang tinggi dalam lemak, organoklorin dapat terakumulasi dalam jaringan hewan yang prosesnya disebut biokonsentrasi. Biomagnifikasi dapat terjadi pada hewan yang terlibat dalam rantai makanan. Pestisida jenis ini masih digunakan di negara-negara berkembang, terutama di daerah khatulistiwa. Hal ini dikarenakan harganya yang sangat murah, keefektifannya, dan persistensinya. Kebanyakan negara berkembang terletak di daerah yang beriklim tropis dimana pada umumnya memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi. Iklim yang seperti itu dapat membuat perpindahan residu melalui udara dan air secara cepat dan akhirnya berkonstribusi terhadap kontaminasi global. Proporsi pestisida yang akan mencapai target, seperti hama, ditemukan tidak lebih dari 0,3% dari yang diaplikasikan, sedangkan 99% lainnya akan berada di lingkungan (Karina S.B, Julia E., and Victor J. Moreno, 2002).

Salah satu jenis Pestisida yang umum digunakan di Indonesia adalah golongan organoklorin (Tarumingkeng, 1992). Kelompok Pestisida organoklorin mulai diperkenalkan pemerintah pada pertanian sejak awal 1950 (Untung dalam Sudaryanto et al., 2007). DDT digunakan selama program pemberantasan penyakit malaria sebanyak 2600 ton/tahun selama tahun 1974 – 1982 khususnya di Pulau Jawa (UNIDO, 1984). Organoklorin dikelompokkan menjadi 3, yaitu : diklorodifenil etan (contoh : DDT, DDD, portan, metosiklor, dan metioklor), siklodin (contoh : aldrin, dieldrin, heptaklor, klordan, dan endosulfan), dan sikloheksan benzene terklorinasi (contoh : HCB, HCH, dan lindan). Organoklorin merupakan pencemar utama dalam golongan Persistent Organic Pollutant yang sedang dipermasalahkan di dunia akibat sifatnya yang toksik kronis, persisten dan bioakumulatif (Zhou et al., 2006). Dalam jangka waktu 40 tahun, organoklorin masih ditemukan di lingkungan dan biota, dan terdistribusi secara global bahkan ke daerah terpencil di mana organoklorin tidak pernah digunakan (Sudaryanto et al., 2007).

Sejak akhir 1990, semua jenis Pestisida organoklorin sudah dilarang penggunaannya di Indonesia. Namun karena harganya yang murah, mudah digunakan, dan efektif membasmi hama, maka beberapa jenis organoklorin seperti DDT masih digunakan di Indonesia, selain karena kurangnya ketegasan peraturan dan hukum yang berlaku (Sudaryanto et al., 2007).

2.2 Toksikologi

Toksikologi adalah studi tentang efek samping bahan kimia yang menjelaskan tentang hubungan antara dosis dan efek terhadap organisme terkena. Kriteria utama mengenai racun kimia adalah dosis, yaitu jumlah paparan substansi. Organofosfat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II.

Pada awal sintesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP),parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai Pestisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap manusia seperti malathion, tetapi masih sangat toksik terhadap insekta.

Pestisida dalam kelompok ini mengandung Klorin, Hidrogen dan Karbon. Kadang-kadang ada juga yang mengandung Oksigen dan Sulfur. Organoklorin mengandung unsur karbon, hidrogen, dan klorin (DDT dan D3 aldrin). Daya racun terhadap organisme tertentu dinyatakan dalam nilai LD 50 ( Lethal Dose atau takaran yang mematikan). LD 50 menunjukkan banyaknya racun persatuan berat organisme yang dapat membunuh 50% dari populasi jenis binatang yang digunakan untuk pengujian, biasanya dinyatakan sebagai berat bahan racun dalam milligram, perkilogram berat satu ekor binatang uji. Jadi semakin besar daya racunnya semakin besar dosis pemakainnya.

Senyawa-senyawa OK  (organokhlorin, chlorinated hydrocarbons) sebagian besar menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen selubung sel syaraf (Schwann cells) sehingga fungsi syaraf terganggu.  Peracunan dapat menyebabkan kematian atau pulih kembali. Kepulihan bukan disebabkan karena senyawa OK telah keluar dari tubuh tetapi karena disimpan dalam lemak tubuh.  Semua Pestisida OK sukar terurai oleh faktor-faktor lingkungan dan bersifat persisten, Mereka cenderung menempel pada lemak dan partikel tanah sehingga dalam tubuh jasad hidup dapat terjadi akumulasi, demikian pula di dalam tanah. Akibat peracunan biasanya terasa setelah waktu yang lama, terutama bila dose kematian (lethal dose) telah tercapai. Hal inilah yang menyebabkan sehingga penggunaan OK pada saat ini semakin berkurang dan dibatasi. Efek lain adalah biomagnifikasi, yaitu peningkatan peracunan lingkungan yang terjadi karena efek biomagnifikasi (peningkatan biologis) yaitu peningkatan daya racun suatu zat terjadi dalam tubuh jasad hidup, karena reaksi hayati tertentu.

2.3 Sasaran

Pestisida organoklorin merupakan pestisida dengan spektrum luas, jadi semua serangga dapat dikendalikan dengan pestisida jenis ini. Pestisida organoklorin merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur.

2.4 Mekanisme Peracunan

Pada serangga organoklorin membuka  saluran ion natrium di neuron, menyebabkan serangga akan  secara spontan mengalami  kejang dan akhirnya kematian. Adapun cara kerja organoklorin lainnya adalah  dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian.

Apabila organoklorin menginhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusatreseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer, hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

2.5 Dampak Terhadap Lingkungan dna Kesehatan

Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi). Faktanya, organoklorin juga telah dilarang di Indonesia, namun masih banyak petani yang menggunakannya. Telah dibuktikan bahwa organoklorin masih terkandung dalam tanah di daerah pertanian Pantura Jawa Barat. Hal ini menandakan organoklorin masih digunakan di daerah tersebut. Jenis organoklorin yang terdeteksi adalah DDT, Dieldrin, Endrin, dan masih banyak lagi. Dikarenakan kondisi daerah pertanian di Jawa Barat tidak terlalu berbeda, maka tanah daerah pertanian di Sub DAS Citarum Hulu diperkirakan mengandung senyawa organoklorin (Nugraha, 2007).

Dampak organoklorin bagi kesehatan manusia seperti kejang mirip epilepsy,mual, muntah, sakit kepala, gelisah dan tremor. Dan juga dapat kehiilangan kesadaran, fibrilasi ventrikel, dan depresi nafas (Annoymous, 2010).

3. PENUTUP

Organoklorin merupakan polutan yang bersifat persisten dan dapat terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Organoklorin tidak reaktif, stabil, memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam lemak, dan memiliki kemampuan degradasi yang rendah. Organoklorin termasuk ke dalam golongan pestisida yang bagus dan ampuh, namun memiliki banyak dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai pestisida, sifat persistensinya sangat menguntungkan untuk mengontrol hama.

Organoklorin mengandung unsur karbon, hidrogen, dan klorin (DDT dan D3 aldrin). Daya racun terhadap organisme tertentu dinyatakan dalam nilai LD 50 ( Lethal Dose atau takaran yang mematikan). LD 50 menunjukkan banyaknya racun persatuan berat organisme yang dapat membunuh 50% dari populasi jenis binatang yang digunakan untuk pengujian, biasanya dinyatakan sebagai berat bahan racun dalam milligram, perkilogram berat satu ekor binatang uji. Jadi semakin besar daya racunnya semakin besar dosis pemakainnya.

Pestisida organoklorin merupakan racun kontak dan racun perut, efektif untuk mengendalikan larva, nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. Mekanisme peracunan organoklorin lainnya adalah  dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas, gemetaran, kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian. Apabila organoklorin menginhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusatreseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer, hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.

Penggunaan Pestisida organoklorin telah mengakibatkan pencemaran terhadap udara, tanah, dan air. Area persawahan yang menggunakan banyak materi organik akan mengandung residu pestisida yang tinggi karena tanah yang seperti ini dapat mengabsorbsi senyawa hidrokarbon yang mengandung klor (hidrokarbon terklorinasi).

DAFTAR PUSTAKA

Annonymous. 2010. Dampak Organoklorin. http://zadchrist.blogspot.com/2010/05/keracunan-organokolin.html. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2012. Organoklorin. http://blog.ub.ac.id/danik/2012/02/15/pestisida/. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2011. Pestisida  Organoklorin. http://kimiapestisida.webnode.com/Pestisida/. Diakses 28 Februari 2012.

Annonymous. 2010. Senyawa Kimia Organoklorin. http://4skyn4ri4fis.wordpress.com/2010/07/28/materi-dasar-atom-ion-dan-molekul/. Diakses 28 Februari 2012.

Miglioranza, Karina SB; de Moreno, Julia E. Aizpun; de Moreno, Victor J. 2002. Dynamics of Organochlorine Pesticides in Soils From a Southeastern Region of Argentina. Environmental Toxicology and Chemistry, Vol 22, pages 712-717

Soemirat, Juli. 2005. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sudaryanto A., Monirith I., Kajiwara N., Takahashi S., Hartono P., Muawanah, Tanabe S. 2007. Levels and Distribution of Organochlorine In Fish from Indonesia. Environmental International, 33(6), 750-758.

Tarumingkeng R. 1992. Pestisida: Sifat, Mekanisme Kerja dan Penggunaannya. Jakarta : Penerbit Ukrida. Nugraha. 2007. Evaluasi Penggunaan Pestisida Organoklorin di Persawahan di Pantai Utara Jawa

UNIDO. 1984. Indonesia : Consultation on Research and Development for Pesticide Production in Indonesia. Technical report. Vienna : United Nations Industrial Development Organization.

Zhou R., Zhu L., Yang K., Chen Y. 2006. Distribution of Organochlorine Pesticides in Surface Water.

Posted by: ahahermanto | March 28, 2013

Sepenggal Cerita (Kata – Kata Terakhir)

PelantikanHIMAPTA….. Oyi Ker!!! HIMAPTA ….. Oyi Ker!!! HIMAPTA ….. Oyi Ker!!!

hmmmmm……. Riuh geliat semangatnya masih berdengung hingga penghujung malam.

yapz… inilah HIMAPTA (Himpunan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) Fakultas Pertanian – Universitas Brawijaya, sebuah organisasi yang melebihi organisasi, sebuah keluarga yang melebihi arti keluarga, sebuah rumah yang melebihi istana dan sebuah sesuatu yang melebihi segala sesuatu. Mohon maaf dan Terima kasih saya ucapkan kepada jajaran pengurus Himpunan Mahasiswa perlindungan Tanaman periode 2012, R. Ardian Iman, Primastya D., Novie Utami, Karlina T., Ratri K. Devi, Rizki Pudji, M. Akmal, Evi Masfiyah, Happy S., Devi Annor, Ahmad Mundir, Ayu Ros., Zevita Ganda, Fiqh Thamrotul, Birtha Niken, Dhewyangga B., Faradhila Y., Amanda Yayu, Andik Setiawan, Aprilya M., Esti yuliastri juga kepada segenap teman – teman staf magang HIMAPTA 2012  atas segala kerjasama dan partisipasi nya selama kepengurusan HIMAPTA periode 2012.

Special thank’s to Mr. Bambang Tri Rahardjo dan juga jurusan HPT FP UB atas bimbingan dan bantuannya selama kepengurusan ini, kami memohonkan maaf atas semua kekurangan yang ada selama menjadi pengurus.
Akhirnya, sepenggal cerita telah kami siratkan dalam buku perjalanan HIMAPTA, tersemat kebanggaan dan kehormatan di pundak kami, tersungging senyum simpul merasakan makna yang luar biasa bisa menjadi bagian  keluarga ini. keluarga yang selalu menanamkan identitas mahasiswa sebagai mahasiswa yang sebenarnya, keluarga yang menggenggam optimisme, keluarga yang saling mengayomi, keluarga yang saling mengisi dan melengkapi, keluarga yang selalu penuh harmoni, penuh keistimewaan.

Perbedaan perbedaan yang sempat mengambang diantara kami merupakan batu kerikil yang tidak terlalu berarti buat kami. kami yakin, langkah pasti kami bisa meneggalamkan bahkan menghancurkanya hingga luluh. yaaa… inilah kami, penuh percaya diri.
Pasti tak kan terbayangkan bagaimana rindunya kami akan dinding ungu yang (katanya) bisa mendengar, hahahah. Rumah mini berwarna ungu yang suasananya selalu melebihi riuh istana. Teringat, disela – sela merasakan penatnya aktivitas belajar, rumah ini menjadi persinggahan paling mantap sepanjang masa, terlalu banyak ekspresi yang bisa diekspresikan ketika memasuki rumah ini.

Apapun yang sudah kami lakukan (baik buruknya) semoga bisa memberikan hikmah kepada semuanya. Adalah bentuk pengabdian kami, persembahan yang jauh dari sempurna, tetapi kami menuliskannya dengan penuh keikhlasan tanpa imbalan pun. Yang terpenting buat kami, ternyata ehh ternyata adalah keikhlasan dalam menjalankan kebersamaan ini.

Meskipun masa bakti kami sudah usai, tetapi bakti kami akan selalu kami se-panjang masa-kan untuk HIMAPTA.

Mohon maaf  apabila suara hati ini terlalu berlebihan, tapi tulisan ini tidak menggambarkan apapun terkecuali luar biasanya perasaan kami bisa menjadi bagian dari HIMAPTA.

HIMAPTA!!!! Oyi ker!!!!……HIMAPTA!!!! Oyi ker!!!!……HIMAPTA!!!! Oyi ker!!!!……

Posted by: ahahermanto | March 10, 2013

Penilaian Kehilangan Hasil

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kehidupan manusia sangat bergantung pada tumbuhan, begitu pula pada makhluk lain yang tidak berhijau daun. Sedangkan tumbuhan dalam kehidupannya sering dihadapkan pada berbagai gangguan, salah satunya adalah serangan dari penyakit tumbuhan yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi. Adanya penyakit tumbuhan sudah diketahui lama sebelum masehi, bahkan dilaporkan bahwa penyakit telah ada sebelum manusia membudidayakan tanaman (Sinaga, 2003).

Analisis mengenai tingkat keparahan penyakit tumbuhan serta keberadaan sangan dibutuhkan dalam mempelajari kehilangan hasil, peramalan tingkat penyakit, dan sistem pengendalian yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang disebabkan oleh serangan penyakit. Berat atau ringannya penyakit dapat diklasifikasikan dalam tiga kriterium utama, yaitu insidensi penyakit (diseases insident), intensitas penyakit (diseases severity), dan kehilangan hasil (crop  loss) (Sastrahidayat,2011).

Penilaian Penyakit yang dilakukan dalam praktikum ini adalah dengan sistem skoring.

Penilaian penyakit ini penting dilakukan untuk menentukan tingkat kepentingan suatu penyakit, peramalan dan pengambilan keputusan untuk pengendalian yang akan dilakukan, evaluasi cara pengendalian, dan meprwdiksi tingkat kehilangan hasil.

1.2.Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mempelajari cara penilaian keparahan penyakit, mempraktikan metode-metode yang digunakan untuk menghitung persentase keparahan penyakit, dan menaksir penyakit dalam hubungannya dengan kehilangan hasil yang dikemukakan secara matematis.


 

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Metode Pengukuran Intensitas Serangan

Untuk menggambarkan keparahan penyakit biasanya dibuat dengan cara membagi kisaran antara bagian yang bebas penyakit sampai terkena seluruhnya menjadi sejumlah kategori serangan atau kelas-kelas serangan (Sastrahidayat, 2011).

Tabel 1. Sistem skoring keparahan penyakit hawar batang bergetah oleh Dydimella bryoniae pada Semangka.

Skor (nilai)

Kriteria

1

Tidak ada gejala

2

Daun menguning (hanya indikasi tanaman sakit)

3

Gejala ringan, pada daun terjadi nekrosis <20%

4

Gejala sedang, pada daun terjadi nekrosis 21 – 45%

5

Gejala meluas, pada daun terjadi nekrosis >45%

6

Gejala ringan, pada daun terjadi nekrosis <20%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang❤ mm

7

Gejala sedang, pada daun terjadi nekrosis 21 – 45%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang 3 – 5 mm

8

Gejala meluas, pada daun terjadi nekrosis >45%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang >5 mm

9

Tanaman mati

Sumber : Gusmini et al dalam Sastrahidayat (2011)

Mengingat sistem skoring ini belum menunjukkan keparahan penyakit dalam bentuk persentase yang umumnya menjadi panduan umum, maka dari skor yang didapat tersebut dikelompokkan menjadi sistem numerik dengan mengggunakan rumus yang umum diacu dalam proteksi tumbuhan (Anonim,1984) sebagai berikut:

I = Tingkat serangan (%), n = jumlah skor yang sama, v = nilai skor, N = jumlah sampel yang diamati, Z = nilai skor tertinggi

Tabel 2. Sistem skoring penyakit

Nilai skala

Tingkat kerusakan tanaman (%)

0

1

2

3

4

5

Tidak ada gejala serangan

> 0 – 20

> 20 – 40

> 40 – 60

> 60 – 80

> 80 – 100

Sumber :  (Lologau, 2006)

Pada dasarnya, jenis serangan penyakit dibedakan menjadi dua metode yaitu metode non sistemik dan metode sistemik, sehingga rumus penghitungan intensitas serangan adalah sebagai berikut:

  1. Non Sistemik ( Tidak Menyeluruh)

Keterangan :

I = Intensitas serangan ( % )

n = Jumlah tanaman yang memiliki kategori skala kerusakan yang sama

v = Nilai skala kerusakan dari tiap kategori serangan

Z = Nilai skala kerusakan tertinggi

N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman yang diamati

  1. Sistemik (menyeluruh)

I = Tingkat serangan (%),

a = jumlah tanaman yang terserang,

b = jumlah tanaman yang diamati


 

BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan

  1.  Alat
    1. Alat Tulis

2. Alat hitung

  1.  Bahan
    Dalam praktikum tersebut bahan yang digunakan yaitu tanaman yang terkena penyakit.

2.2.  Cara Kerja

Mengambil contoh (sampel) tanaman pada petak tanaman dengan luas dan jumlah tanaman tertentu untuk mengukur intensitas penyakit. Karena pengamatan pada seluruh populasi tanaman tidak efisien, tidak praktis, dan bersifat destruktif.. Melakukan penilaian Intensitas penyakit sesuai jenis penyakit dan tipe gejala serta kerusakan yang ditimbulkan dengan menggunakan cara penghitungan atau pengukuran yang tepat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil Penghitungan keparahan penyakit :

Jenis serangan dibedakan menjadi dua kriteria yaitu serangan secara non sistemik yaitu mekanisme serangan yang terjadi pada bagian tertentu tanaman misalnya daun dan tidak menyeluruh di seluruh bagian tanaman, sehingga tidak lantas menyebabkan tanaman mati. Sedangkan, serangan secara sistemik yaitu seranagan penyakit yang langsung menyebabkan tanaman mati, di dalam suatu lahan metode sistemik ini diterapkan dengan menghitung persentase tanaman yang mati.

Pada praktikum epidemiologi penyakit tumbuhan, kami membawa tanaman dengan jenis serangan secara sistemik dan non sistemik. Berikut adalah hasil penilaian intensitas serangannya dari masing – masing kelompok:

  • Kelompok I

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 6 helai daun yang dinilai, 4 helai daun mendapat skor 1, 1 helai daun mendapat skor 2 dan 1 daun mendapat skor 5.

= 36,67%

Sistemik

     Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 7 dari 15 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 46,67%

 

  • Kelompok II

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 5 helai daun yang dinilai, 2 helai daun mendapat skor 1, 1 helai daun mendapat skor 3 dan 2 daun mendapat skor 4.

= 65%

Sistemik              

Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 5 dari 25 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 20%

  • Ø Kelompok III

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 8  helai daun yang dinilai, 2 helai daun mendapat skor 0, 1 helai daun mendapat skor 1, 3 daun mendapat skor 3 dan 2 daun mendapat skor 4.

 

Sistemik

Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 15 dari 30 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 50 %

 

 

 

 

Pembahasan

Pengukuran penyakit seringkali masih bersifat subjektif sehingga dalammengkuantitatifkan penyakit perlu dibuat standard diagram yang spesifik untuk masing-masing jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi, dan bagian tanaman yang terserang, misalnya daun muda, daun tua, atau keseluruhan daun (Sinaga, 2006). Diseases severity (DS) atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas penyakit merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit, baikk pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009).

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui seberapa parah intensitas penyakit yang ada pada suatu area tanam dan menentukan tingkat serangan pertanaman dalam populasi. Oleh karena itu terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intensitas atau keparahan penyakit. Dua diantaranya adalah metode kelas serangan (skoring) dan metode proporsi langsung. Kedua metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial (tidak sistemik), contohnya bercak daun.

Metode kelas serangan atau skoring menggunakan pembagian kelas atau skor dalam menilai skala kerusakan tanaman. Terdapat lima kelas ditambah satu kelas 0. Pada daun jeruk yang kami amati, penilaian tergantung dari seberapa luas (%) permukaan daun yang terserang bercak lalu diberi skor sesuai dengan selang nilai kelas serangannya. Metode proporsi langsung tidak menggunakan pembagian kelas serangan atau skor.

Pada praktikum ini, penghitungan intensitas serangan dilakukan dengan metode skoring. Dari hasil perhitungan kelompok 1 diperoleh nilai  I = 36,6% pada contoh serangan secara sistemik dan I = 46, 66 % pada serangan sistemik. Kelompok 2 mendapat hasil perhitungan I = 65 % untuk serangan non- Sistemik dan I = 20 % untuk serangan sistemik. Sedangkan hasil perhitungan dari kelompok 3 sebagai berikut I= 45% untuk serangan non-sistemik dan I = 50% untuk serangan sistemik. Dari masing – masing perkitungan hasil tersebut kemudian dapat ditafsirkan seberapa besar tingkat kehilangan hasilnya (Crop Loss) yaitu rata – rata 50 %.

KESIMPULAN

   Penilaian kehilangaan hasil dapat dilakukan dengan cara mengukur tingkat atau Intensitas serangan suatu penyakit terhadap tanaman. Sedangkan pengukuran Intensitas serangan dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satunya yaitu dengan metode skoring.

DAFTAR PUSTAKA

Sastrahidayat, R. I. 2011. EPIDEMIOLOGI TEORITIS PENYAKIT TUMBUHAN. UB Press Universitas Brawijaya. Malang.

Lologau, Baso Aliem. 2006. TINGKAT SERANGAN LALAT PENGOROK DAUN, Liriomyza huidobrensis (BLANCHARD) DAN KEHILANGAN HASIL PADA TANAMAN KENTANG. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan.

doc Download sini

Posted by: ahahermanto | March 10, 2013

AGENDA PEMILIHAN FORMATUR & MIDE FORMATUR HIMAPTA 2013

SPANDUK KPP

Siapapun Ketua HiMAPTA yang terpilih semoga dapat menjadikan HiMAPTA lebih baik.
HIMAPTA ..!!! Oyi Kerr

Posted by: ahahermanto | August 8, 2012

GELIAT SEMANGAT KEMERDEKAAN ALA KOPLAK COMMUNITY

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 67, para pemuda desa Bangunrejo Kulon atau lebih tepatnya pemuda Dusun Mlaten, Desa Bangunrejo Soko -Tuban mengadakan beberapa kegiatan lomba yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain Bola Volly, Futsal, Badminton dan perlombaan khas 17an (Tuju-belas agustusan) lainnya, seperti lomba makan kerupuk, lari kelereng dll serta rangkain kegiatan lain seperti jalan sehat dan hiburan jelang akhir perlombaan. Kegiatan semacam ini sebenarnya sudah pernah terlaksana pada saat kurang lebih 5 tahun yang lalu, namun sempat vacum, hingga akhirnya muncul ide-ide kreatif kembali oleh kawan-kawan yang tergabung dalam KOEMPOELAN ANAK KREATIF (KOPLAK). Kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap semangat perjuangan para pahlawan nasional yang telah berjuang merebut kemerdekaan. Selain itu, kegiatan tersebut juga merupakan ajang untuk menyalurkan hobi berolahraga bagi masyarakat bangunrejo khususnya Dusun Mlaten.

Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama yang apik dari seluruh pemuda Dusun Mlaten utamanya teman – teman KOPLAK Community serta seluruh masyarakat dusun Mlaten yang sudah bersedia membantu secara materiil maupun berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini diharapkan mampu memupuk rasa nasionalisme dari para pemuda dan masyarakat bangunrejo khususnya dusun Mlaten. Selain itu, momentum ini diharapkan pula dapat menjadi wadah untuk mengukuhkan rasa persaudaraan dan rasa memiliki terhadap dusun Mlaten. Dengan jargon andalan BALON…Satu Hati!!!, teman – teman pemuda Mlaten berharap suatu ketika asyarakat dusun Malaten dan masyarakat desa Bangunrejo dapat bersatu mewujudkan cita-cita untuk menjadi masyarakat yang lebih baik.

Pemuda Mlaten berharap besar, kegiatan semacam ini dapat terus terlaksana dan masyarakat Mlaten-Bangunrejo menjadi cerminan bagi dusun yang lain untuk bisa membangun dusunnya masing-masing untuk menjadi dusun2 yang lebih baik.

BALON……Satu Hatii!!!!!!!!!!!!

276542_197863586931757_2261955_nKOPLAK

255282_3492701038190_1112654412_n

LOMBA VOLI ANTAR RT

546485_3492522513727_2138538918_nSESI FOOTO AWAL SEBELUM BERTANDING

405537_3482677387605_1351746010_n

PERTANDINGAN FINAL

603447_3532037781584_943560354_nACARA PUNCAK

Posted by: ahahermanto | June 13, 2012

Sekolah Lapang Sistem Pertanian Berlanjut

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang (FPUB) pada hari Senin (11/6) kemarin melakukan panen raya padi bersama dengan para petani yang tergabung dalam kelompok tani RUKUN TANI di Desa Bayem Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang. Kelompok tani tersebut merupakan binaan FPUB bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan serta BKP3 Kabupaten Malang yang mengikuti kegiatan Sekolah Lapangan SISTEM PERTANIAN BERLANJUT (SL-SPB) yang dilaksanakan sejak Oktober 2011. Kegiatan SL-SPB tersebut meliputi dua tahap ini yaitu tahap I petani mengikuti  SL padi pada petak studi yang luasnya 0,5 hektar kemudian pada tahap II petani menerapkan pengalamannya mengikuti SL tahap I (satu) di lahan masing-masing dengan total luasan 15 hektar. Panen raya yang dilakukan kemarin merupakan hasil penanaman petani yang seluas 15 hektar tersebut.

Panen ubinan mengawali acara, untuk menghitung produktivitas panen padi di lima lahan milik petani. Hasilnya menunjukkan rata-rata produksi mencapai 10 ton per hektar. Produksi padi tertinggi mencapai 12.4 ton per hektar yang dihasilkan oleh ubinan di lahan Bapak Sutrisno. Acara dilanjutkan di Balai Desa Bayem Kecamatan Kasembon, dengan melakukan sarasehan yang dihadiri oleh Kepala Desa, Dekan FPUB, Perangkat Desa, Petugas, anggota kelompok tani dan mahasiswa FPUB. Dalam kesempatan tersebut Kepala Desa, Ibu Nyamini menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Fakultas Pertanian yang telah bersedia melatih para petani Desa Bayem. Prof. Sumeru Ashari selaku Dekan FPUB pada kesempatan yang sama juga menyampaikan terima kasih kepada petani dan seluruh petugas dan perangkat Desa Bayem yang telah membantu terlaksananya kegiatan SL tersebut. Dekan FPUB mengharapkan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan oleh dosen FP UB memberikan dampak nyata dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sebanyak 57 mahasiswa/i dari program studi Agroekoteknologi angkatan 2009 mengikuti Sekolah Lapangan dengan sekaligus melihat langsung di lapangan bagaimana implementasi dari ilmu yang selama ini mereka dapatkan di bangku kuliah. Dalam acara tersebut perwakilan petani, bapak Sutrisno mengungkapkan bahwa SL-SPB yang dilaksanakan di Desa Bayem telah memberikan dampak terutama pada perilaku petani dalam mengelola lahan padi. Petani menjadi lebih mandiri dalam membuat keputusan serta mampu melakukan pengelolaan agroekosistem tanaman padi sehingga lebih sehat baik dari aspek produksi maupun ketahanan terhadap hama dan penyakit. Bapak Sutrisno juga mengungkapkan bahwa setelah mengikuti SL-SPB Petani telah mampu menghasilkan kompos serta agen hayati secara mandiri yang akan digunakan di lahan masing-masing. Petani telah membuktikan sendiri bahwa dengan Sistem Pertanian Berlanjut produksi tanaman padi tidak berkurang bahkan dapat mengalami peningkatan. Dengan SPB efisiensi usaha tani meningkat yaitu penggunaan benih padi berkurang hingga 60–70 persen, penggunaan pupuk anorganik menjadi sedikit (tinggal 30 persen dari sebelumnya) dan aplikasi pestisida menurun drastis dengan rata-rata 1-2 kali aplikasi saja.Menurut DR. Gatot Mudjiono sebagai Ketua Pelaksana pengabdian masyarakat FP UB, SL-SPB merupakan model pengabdian masyarakat yang digagas dengan melibatkan dosen-dosen lintas jurusan oleh Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. SPB mengutamakan pada pengelolaan agroekosistem yang dapat meningkatkan layanan lingkungan, sehingga agroekosistem menjadi lebih sehat, lebih imun terhadap serangan hama penyakit, dan produksi yang aman. Konsumsi. Pengelolaan agroekosistem dimulai dari sejak sebelum panen dengan meningkatkan kesehatan fisik, kimia dan biologi tanah terutama dengan penambahan bahan organik. Pengamatan mingguan dalam rangka analisis agroekosistem wajib dilakukan dalam upaya preemptif sebagai dasar pengambilan keputusan pemeliharaan tanaman. Pemberian teh kompos dan agens hayati juga dilakukan dalam rangka meningkatkan biodiversitas dalam agroekosistem sehingga lebih imun terhadap serangan hama dan penyakit.Di akhir acara Kepala Desa Bayem Ibu Nyamini menyerahkan kenang-kenangan kepada Dekan FPUB dan beberapa dosen sebagai rasa terima kasih atas bimbingan dan arahan yang selama ini diberikan oleh para dosen FPUB.

Sumber: Agriwarta ONLINE

 “IDENTIFIKASI PATOGEN TANAMAN”

OLEH:

ARIF HERMANTO

0910480021

MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu tahapan yang penting dalam mendiagnosa gejala serangan penyakit tanaman adalah identifikasi terhadap patogen tanaman. Patogen yang diidentifikasi berasal dari pengambilan sampel tanaman yang terserang penyakit. Sampel tanaman yang terserang penyakit kemudian diisolasi dan ditumbuhkan pada media aseptik buatan. Identifikasi menjadi sangat penting karena pada tahapan tersebut ditekankan beberapa hal pokok seperti untuk pengendalian khususnya untuk uji antagonis ataupun hanya sekedar untuk mengetahui jenis patogen yang menyerang tanaman. Dari hasil identifikasi, dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai jenis patogen yang menyerang tanaman kemudian lebih lanjut upaya tersebut juga dapat diarahkan untuk mempelajari upaya – upaya pengendalian yang tepat untuk mencegah serangan patogen tersebut. Salah satunya melalui uji antagonismu dari jamur antagonis. Hal ini menyebabkan proses identifikasi patogen tanaman menjadi sangat penting untuk memastikan jenis patogen yang menyerang tanaman secara akurat. Untuk itu, perlu dilakukan praktik secara langsung untuk mengidentifikasi patogen tanaman.

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengadakan determinasi terhadap jenis patogen yang menyerang tanaman melalui identifikasi secara langsung.

1.3.Manfaat

Manfaat yang bisa diperoleh dari praktikum ini antara lain:

a. Mampu melakukan identifikasi terhadap jenis patogen yang menyerang tanaman.

b. Mengetahui jenis patogen yang menyerang tanaman.

c. Dari hasil identifikasi dapat diarahkan untuk menentukan aras pengendalian yang tepat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Pengertian Identifikasi

Identifikasi adalah usaha pengenalan terhadap suatu hal dengan mengamati sifat – sifat khasnya.

(Tim Penyusun, 2008)

 Pengertian identifikasi (penyakit) secara umum adalah membuat kepastian terhadap suatu penyakit berdasarkan gejala yang tampak, atau  suatu proses untuk mengenali suatu penyakit tanaman melalui gejala dan tanda penyakit yang khas termasuk faktor-faktor lain yang berhubungan dengan proses penyakit tersebut.

(Nurhayati, 2012)

2.2.   Metode Identifikasi patogen Tanaman

a.    Teknik Molekuler

Identifikasi patogen penyebab penyakit dilakukan dalam rangka menentukan spesies penyebab penyakit yang terbawa oleh media pembawa. Pengelolaan sampel kerja (Media Pembawa) dalam identifikasi penyebab menggunakan metode molekuler akan memudahkan Petugas Karantina melakukan tindakan pengujian di laboratorium. Indeksing adalah istilah yang digunakan untuk suatu prosedur pengujian keberadaan patogen yang diketahui, terutama virus, pada tanaman. Indeksing memberi peluang untuk menerapkan secara cepat strategi pengendalian dan mengurangi kemungkinan berkembangnya wabah penyakit.

(Dewianti, 2011)

b.   Polymerase Chain Reaction (PCR)

Polymerase chain reaction (PCR) merupakan sebuah metode yang digunakan untuk memperbanyak suatu fragmen DNA yang spesifik secara invitro. Posisi fragmen DNA yang spesifik tersebut ditentukan oleh sepasang primer yang akan menjadi cetakan awal untuk proses perbanyakan fragmen DNA selanjutnya dengan bantuan enzim polimerase dan deoxyribonucleotide triposphate (dNTPs) yang dikondisikan pada suhu tertentu. Fragmen DNA, yang pada awalnya terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah akan diperbanyak menjadi cetakan fragmen DNA baru yang cukup untuk dapat divisualisasi pada gel agarosa . Secara prinsip, PCR merupakan proses yang diulang-ulang antara 20–30 kali. Setiap siklus terdiri dari tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap bekerjanya PCR dalam satu siklus:
1. Tahap peleburan (melting) atau denaturasi. Pada tahap ini (berlangsung pada suhu tinggi, 94–96°C) ikatan hidrogen DNA terputus (denaturasi) dan DNA menjadi berberkas tunggal. Biasanya pada tahap awal PCR tahap ini dilakukan agak lama (sampai 5 menit) untuk memastikan semua berkas DNA terpisah. Pemisahan ini menyebabkan DNA tidak stabil dan siap menjadi templat (“patokan”) bagi primer. Durasi tahap ini 1–2 menit.

2. Tahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian DNA templat yang komplementer urutan basanya. Ini dilakukan pada suhu antara 45–60°C. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap ini 1–2 menit.
3. Tahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis DNApolimerase yang dipakai. Dengan Taq-polimerase, proses ini biasanyadilakukan pada suhu 76°C. Durasi tahap ini biasanya 1 menit. Pada denaturasi awal (1) Dna akan dipisah menjadi untai tunggal. Kemudian primer melekat pada posisi target dari masing-masing untai DNA (2) pada saat annealing. Setelah itu taq polimerase melakukan ekstensi DNA dari ujung 3’ primer pada tahap ekstensi. Lepas tahap 3, siklus diulang kembali mulai tahap 1. Tahap 4 pada gambar menunjukkan perkembangan yang terjadi pada siklus-siklus selanjutnya. Akibat denaturasi dan renaturasi, beberapa berkas baru (berwarna hijau) menjadi templat bagi primer lain. Akhirnya terdapat berkas DNA yang panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai dalam jumlah yang melimpah karena penambahan terjadi secara eksponensial.

(Sadatin, 2011)

c.     Teknik Serologi

Prinsip kerja serologi didasarkan pada reaksi spesifik antara antigen dan antibodi (antiserum) sehingga terbentuk reaksi conjugate antibody-enzyme (Hunter D. 2001).Salah satu metode pengujian serologi adalah Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) Metode pengujian ini mulai berkembang sejak tahun 1971. ELISA merupakan suatu metode pengujian serologi yang melekatkan kompleks ikatan antara antibodi dengan antigen di dalam sumuran plate ELISA yang terbuat dari bahan plastik (Dijkstra et al. 1998). Jika terjadi reaksi kompatibel antara antibodi dengan antigen akan ditunjukkan dengan adanya perubahan warna yang terjadi.

Keunggulan metode ini (Dijkstra et al. 1998):

1. Dapat mendeteksi virus padakonsentrasi rendah (1-10 ng/ml).

2. Penggunaan antibodi dalam jumlah sedikit.

3. Hasil pengujian pada sap tanaman sama baiknya dengan pengujian pada suspensi virus yang dimurnikan.

4. Pengujian dapat diaplikasi pada sampel pengujian dalam jumlah besar.

5. Pengujian dapat distandarkan dengan menggunakan kit bahan pengujian .

6. Memungkinkan untuk mendapatkan hasil secara kuantitatif (nilai absorbansi) disamping hasil kualitatif (perubahan warna).

Dalam perkembangannya, metode ini mengalami modifikasi dalam prosedur pelaksanaan pengujian, diantaranya adalah pengujian standar (direct) DAS ELISA dan indirect ELISA. Perbedaan kedua metode ini adalah pada tempat enzim terikat. Bila konjugasi enzim dilakukan pada imunoglobulin antivirus maka metode itu termasuk DAS ELISA, tetapi bila konjugasi enzim dilakukan pada imunoglobulin dari serum darah hewan maka metode tersebut diklasifikasikan sebagai Indirect ELISA.

(Sadatin, 2011)

d.    Mikroskop

Menggunakan mikroskop elektron payar Scanning Electron Microscope (SEM) untuk menghasilkan gambar. Metode ini terbilang paling sederhana diantara metode yang lain, prosedur kerjanya dapat dilakukan secara langsung dengan cara pengamatan terhadap sampel patogen yang telah diisolasi dan ditumbuhkan pada media buatan. Teknik ini lebih mudah apabila digunakan untuk mengidentifikasi patogen yang dapat dibiakkan pada media buatan misalnya jamur.setelah diletakkan diatas preparat lalu lakukan pengamatan dengan mikroskop kemudian hasil identifikasinya diambil gambarnya.(Anonymous, 2012)

2.3.  Deskripsi Gejala makroskopis Spesimen

Menurut Semangun (2007) jamur membentuk aservulus di bawah epidermis tumbuhan inang. Aservulus membentuk konidium yang setelah masak akan bebas dengan menembus epidermis. Konidium bersel 2, hialin, lebih kurang berukuran 14,5-21 x 3,5-5,3 µm. Konidiofor tegak atau agak melengkung, hialin, dengan ukuran 10,5-24 x 3,5-7 µm.

2.4.  Postulat koch

Dalam Postulat Koch dijelaskan bahwa mikroorganisme dikatakan sebagai penyebab penyakit bila memenuhi kriteria berikut:

(1) mikroorganisme penyebab penyakit selalu berasosiasi dengan gejala penyakit yang bersangkutan,

(2) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat diisolasi pada media buatan secar murni,

(3) mikroorganisme penyebab penyakit hasil isolasi harus dapat menimbulkan gejala yang sama dengan gejala penyakitnya, apabila diinokulasikan, dan

(4) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat direisolasi dari gejala yang timbul  hasil lnokulasi.

Postulat Koch ini oleh Smith (1906) dimodifikasi, untuk parasit obligat, tidak perlu pada media buatan, tetapi harus dapat dibiakkan secara murni sekalipun pada inang.

(Cut Putria, 2010)

BAB III
METODE PRAKTIKUM

 3.1. Alat dan Bahan

Alat

–          Mikroskop       :  digunakan untuk mengidentifikasi kenampakan mikroskopis patogen

–          Objek glass dan Cover glass : digunakan sebagai tempat spesimen yang diamati.

–          Jarum ose        : digunakan untuk mengambil spesimen.

–          Kamera            : digunakan untuk mendokumentasikan hasil identifikasi

Bahan

–          Aquades          : untuk membersihkan alat.

–          Alkohol           : untuk mensterilkan alat.

–          Biakan murni patogen : spesimen yang diamati.

3.2. Pelaksanaan Identifikasi patogen Tanaman

Biakan patogen yang sudah dipurifikasi, kemudian diambil dengan jarum ose, dan setelah itu diletakkan di preparan yang sudah ditetesi air kemudian ditutup dengan cover glass. Langkah berikutnya, preparat yang telah berisi sampel patogen kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x. Setelah kenampakan mikroskopisnya terlihat maka segera didokumentasikan hasilnya dan dibandingkan dengan literatur.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Gambar Identifikasi

Gambar Literatur

Keterangan

   

Miselium Tampak  kumpulan hifa pada hasil pengamatan mikroskopis

4.2. Pembahasan

Dari hasil pengamatan mikroskopis dan dibandingkan dengan literatur ternyata hasilnya menunjukkan kenampakan yang  tidak sama. Menurut Semangun (2007) jamur membentuk aservulus di bawah epidermis tumbuhan inang. Aservulus membentuk konidium yang setelah masak akan bebas dengan menembus epidermis. Konidium bersel 2, hialin, lebih kurang berukuran 14,5-21 x 3,5-5,3 µm. Konidiofor tegak atau agak melengkung, hialin, dengan ukuran 10,5-24 x 3,5-7 µm.

Hasil yang tidak sesuai ini dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah karena masa inkubasi dari biakan Marssonina coronaria yang singkat (7 hari). Menurut Lee et al (2011) Marssonina sp. agak sulit untuk dibiakkan secara in vitro karena pertumbuhan patogen ini sangat lambat, umumnya menggunakan media PDA. Koloni berwarna coklat gelap sampai hitam tanpa daerah miselium, berbentuk keriput pada permukaan, dan dengan diameter 5-7 mm pada permukaan PDA setelah masa inkubasi 30 hari pada suhu 200C.

BAB V

KESIMPULAN

Identifikasi adalah usaha pengenalan terhadap suatu hal dengan mengamati sifat-sifat khasnya. Berdasarkan hasil pengamatan patogen secara  mikroskopis menunjukkan bahwa kenampakan mikroskopis yang diperoleh tidak sama dengan gejala mikroskopis dari Marssonina coronaria yang disebutkan pada literatur. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa patogen yang diisolasi bukan Marssonina coronaria.

Menurut literatur Marssonina coronaria agak sulit untuk dibiakkan secara in vitro karena pertumbuhan patogen ini sangat lambat, umumnya menggunakan media PDA. Koloni berwarna coklat gelap sampai hitam tanpa daerah miselium, berbentuk keriput pada permukaan, dan dengan diameter 5-7 mm pada permukaan PDA setelah masa inkubasi 30 hari pada suhu 200C.

DAFTAR PUSTAKA

Cutputria. 2010. Postulat koch. http://cutputrias08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/postulat-koch-part-2/ diunduh 30 mei 2012.

Dewianti. 2011. Identifikasi Pengganggu Tumbuhan. http://dewiantib.blogspot.com/2011/06/makalah-identifikasi-pengganggu.html diunduh 30 mei 2012.

Ghurri, Sadatin. 2011. Diagnose Virus Patogen Tanaman. http://sadatin091089.blogspot.com/2011/04/diagnosis-virus-patogen-tanaman-tugas. Diunduh 30 mei 2012.

Lee et al. 2011. Biological Characterization of Marssonina coronaria Associated with Apple Blotch Disease. Mycobiology. 39 (3) : 200-205

Nurhayati. 2012. Diagnose Penyakit Tumbuhan .http://nurhayatisite.blogspot.com/2011/03/diagnosis-penyakit-tanaman  Diunduh 30 Mei 2012.

Semangun, Haryomo. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Tim Penyusun S. 1997. Kamus Pertanian Umum. Penebar Swadaya. Jakarta.

Identifikasi patogen tanaman. >> download kene!!

Posted by: ahahermanto | May 9, 2012

Metode Pembiakan Massal Riptortus linearis

METODE PEMBIAKAN MASSAL Riptortus linearis F.

  • Biologi Riptortus linearis

Kepik polong kedelai R. linearis memiliki tipe metamorfosis paurometabola yaitu terdiri dari telur, nimfa, dan imago. Telur R. linearis berbentuk bulat dan berwarna coklat. Dari empat ekor imago betina dihasilkan 104 butir telur. Lama stadium telur hingga menetas sekitar 6,37 ± 0,82 hari. Nimfa instar pertama mirip semut gramang, berwarna kekuning-kuningan, aktif bergerak dan mencari makan. Serangga yang hidup hingga instar 1 sebanyak 93 ekor dengan rata-rata lama stadium 2,06 ± 0,76 hari. Menurut Prayogo & Suharsono (2005), stadium instar I berlangsung 1-3 hari. Instar II juga mirip semut gramang, berwarna coklat kekuningan, aktif bergerak, dan mencari makan. Rata-rata lama stadium instar II adalah 4,75 ± 1,61 hari. Nimfa instar III berbentuk seperti semut rangrang, berwarna coklat, aktif bergerak tapi tidak seaktif instar I dan II. Rata-rata lama stadium instar III adalah 4,55 ± 2,28. Nimfa instar III yang hidup sebanyak 71 ekor. Nimfa instar IV mirip semut hitam, tidak seaktif instar satu dan dua. Stadium instar IV berlangsung 4,54 ± 2,27 hari. R. linearis yang hidup hingga instar IV sebanyak63 ekor dan yang mampu mencapai instar V sebanyak 55 ekor. Instar V berwarna hitam agak abu-abu, mirip semut hitam. Stadium instar V berlangsung 6,20 ± 1,58 hari. Pada beberapa invidu ada yang mengalami hingga instar VI dengan bentuk tubuh seperti nimfa instar V. Hanya ada 9 individu R. linearis yang berkembang hingga instar VI dengan rata-rata lama stadium 6,67 ± 1,12 hari. Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan dan kualitas makanan.

Stadia serangga yang dapat diperoleh dari lahan kedelai adalah stadia imago dan nimfa. Stadia nimfa dan telur tidak dapat dibedakan jenis kelamin dan spesiesnya. Stadia imago mudah dibedakan antara imago jantan dan betina.

Ciri khas serangga ini terdapat pada stadia imago, yaitu adanya garis putih kekuningan pada sepanjang sisi badannya. Imago R. linearis bertubuh memanjang dan berwarna kuning coklat. Jumlah imago yang hidup sebanyak 50 ekor. Imago memiliki sayap sehingga bisa terbang. Perbedaan antara imago jantan dan betina dapat terlihat pada bagian abdomen. Pada abdomen betina terdapat garis segitiga berwarna putih, sedangkan pada jantan hanya ada garis memanjang berwarna putih. Jika sudah berisi telur, serangga betina memiliki abdomen yang membesar dan menggembung pada bagian tengah, sedangkan abdomen jantan lurus ke belakang. Rata-rata lama stadium imago adalah 29,3 ± 13,75 hari. Lama perkembangan R. linearis dari telur hingga imago membutuhkan waktu 64,48 hari.

Berikut merupakan langkah – langkah yang dilakukan untuk pembiakan secara massal Riptortus linearis F. :

1. Mendapatkan Serangga Biakan

Untuk mendapatkan imago maupun nimfa, perlu dicari pada tanaman kacang-kacangan yang telah membentuk polong, terutama tanaman kedelai dan kacang hijau. Imago dapat ditangkap dengan menggunakan tangan, terutama pada pagi hari dan sore hari. Cara ini kurang efektif. Cara koleksi imago R. linearis yang paling efektif adalah dengan menggunakan jarring serangga buatan Tadatora Okada (Peneliti Entomologi asal Jepang), karena jarring ini dilengkapi dengan kantong khusus pada bagian dasar jarring sehingga imago yang terjaring langsung masuk ke dalam kantong tersebut.

Waku itu juga harus membawa sangkar yang terbuat dari kain trikot dengan rangka terbuat dari kawat (Ø .. cm). Ukuran kurungan /sangkar adalah tinggi 50 cm dan garis tengah 15 cm (Gambar…….). Serangga yang terjaring langsung dimasukkan ke dalam sangkar. Di dalam sangkar telah pula dilengkapi dengan pakan yaitu kacang panjang yang telah berisi penuh supaya serangga yang terjaring tidak mati kelaparan dan kehausan.

Setelah sampai di laboratorium, serangga dipindahkan ke sangkar yang lain. Tiap stadia dari masing-masing spesies ditempatkan pada sangkar yang berbeda.

2. Cara Mendapatkan dan Menyiapkan Pakan untuk Nimfa Instar 3-5 dan Imago.

Pakan berupa kacang panjang yang telah berisi penuh yang didapatkan dari penjual sayur di pasar pada sore hari. Di laboratorium, kacang panjang dicuci dengan air kran dalam ember besar sebanyak 3-4 kali. Air pada kacang panjang dikeringanginkan di atas kain lap. Selanjutnya kacang panjang tersebut diikat pakai karet gelang sebanyak 3 buah kacang panjang yang panjangnya 75-80 cm ditambah 1 buah yang lebih pendek (5-7,5 cm). Ikatan-ikatan kacang panjang tersebut siap dipakai untuk pakan nimfa dan imago R. linearis. Kalau pakan tidak segera dipakai, dapat disimpan dalam lemari es. Caranya kacang panjang yang telah diikat dan telah keringangin tersebut dibungkus dengan kain lap atau kantung terigu kemudian bungkusan tersebut dimasukkan ke dalam  kantung keresek yang besar dan segera dimasukkan ke lemari es.

3. Pemeliharaan Imago R. linearis

Imago R. linearis hasil penjaringan seranggan di lahan kedelai atau lahan kacang hijau dimasukkan ke dalam sangkar kain trikot yang telah disediakan pakan (kacang panjang) dengan cara mencantolkan potongan kacang panjang yang lebih pendek ke rangka sangkar (kawat) pada bagian atas sangkar. Tiap sangkar disediakan 15-20 ikat kacang panjang. Banyaknya imago per sangkar berkisar antara 100 ekor jantan dan 100 ekor betina. Pakan diganti setiap dua hari sekali.

Untuk  tempat imago meletakkan telurnya, di antara ikatan pakan diletakkan ikatan benang siet berwarna putih. Telur dikoleksi setiap hari atau setiap dua hari tergantung pada keperluan. Benang yang mengandung telur tersebut diberi tanggal peneluran.

Untuki menghindari serangan semut terhadap R. linearis, maka sangkar pemeliharaan perlu diletakkan di atas ember yang pantatnya terendam dalam larutan detergen.

4. Pemeliharaan Telur R. linearis

Telur yang diletakkan imago pada benang siet diambil satu persatu dengan menggunakan tangan secara hati-hati supaya telur tidak pecah. Telur dari setiap tanggal peneluran dipelihara dalam cawan Petri. Pada lima hari setelah telur diletakkan, ke dalam cawan Petri dimasukkan sepotong kacang panjang segar untuk menciptakan kelembaban tinggi dan pakan nimfa setelah menetas pada hari ketujuh setelah telur diletakkan.

5. Pemeliharaan Nimfa R. linearis

Untuk pemeliharaan nimfa instar 1-2 dipersiapkan sangkar plastik mika yang bagian atasnya ditutup dengan kain nylon dan pada bagian dasarnya dipasang mangkuk plastic. Pada bagian dasar mangkuk diberi alas kertas berbentuk bulat. Ke dalam sangkar diberi 1-2 ikat kacang panjang. Selanjutnya nimfa instar 1 tersebut dipindahkan dari cawan Petri ke dalam sangkar plastic yang telah disediakan pakan. Sangkar tersebut diletakkan di baki plastic dengan … pada bagian bawah. Setelah nimfa mencapai instar-2 yang mendekati ganti kulit untuk masuk ke instar-3.

6. Pemeliharaan Nimfa R. linearis Instar-3, 4, dan -5

Sebelum nimfa instar-2 berganti kulit, nimfa dari sangkar plastik mika dipindahkan ke dalam sangkar kain trikot dengan rangka kawat yang di dalamnya sudah disediakan pakan kacang panjang. Pakan nimfa diganti tiap 2-3 hari. Setelah menjadi imago disediakan pakan dan media peneluran (benang siet).

Sumber :
Afifah, Lutfi. 2012. http://lutfiafifah.wordpress.com/2010/09/29/metode-pembiakan-massal-riptortus-linearis-f/

Wawan, Amanda dan Amali H. 2011. Statistika Demografi Riptortus linearis F. (Hemiptera: Alydidae) pada Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)    IPB. Bogor

 

 

Older Posts »

Categories