Posted by: ahahermanto | May 5, 2012

Epidemiologi Penyakit Tumbuhan “Penilaian Kehilangan Hasil”

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kehidupan manusia sangat bergantung pada tumbuhan, begitu pula pada makhluk lain yang tidak berhijau daun. Sedangkan tumbuhan dalam kehidupannya sering dihadapkan pada berbagai gangguan, salah satunya adalah serangan dari penyakit tumbuhan yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi. Adanya penyakit tumbuhan sudah diketahui lama sebelum masehi, bahkan dilaporkan bahwa penyakit telah ada sebelum manusia membudidayakan tanaman (Sinaga, 2003).

Analisis mengenai tingkat keparahan penyakit tumbuhan serta keberadaan sangan dibutuhkan dalam mempelajari kehilangan hasil, peramalan tingkat penyakit, dan sistem pengendalian yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang disebabkan oleh serangan penyakit. Berat atau ringannya penyakit dapat diklasifikasikan dalam tiga kriterium utama, yaitu insidensi penyakit (diseases insident), intensitas penyakit (diseases severity), dan kehilangan hasil (crop  loss) (Sastrahidayat,2011).

Penilaian Penyakit yang dilakukan dalam praktikum ini adalah dengan sistem skoring. Penilaian penyakit ini penting dilakukan untuk menentukan tingkat kepentingan suatu penyakit, peramalan dan pengambilan keputusan untuk pengendalian yang akan dilakukan, evaluasi cara pengendalian, dan meprediksi tingkat kehilangan hasil.

1.2.Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mempelajari cara penilaian keparahan penyakit, mempraktikan metode-metode yang digunakan untuk menghitung persentase keparahan penyakit, dan menaksir penyakit dalam hubungannya dengan kehilangan hasil yang dikemukakan secara matematis.


 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Metode Pengukuran Intensitas Serangan

Untuk menggambarkan keparahan penyakit biasanya dibuat dengan cara membagi kisaran antara bagian yang bebas penyakit sampai terkena seluruhnya menjadi sejumlah kategori serangan atau kelas-kelas serangan (Sastrahidayat, 2011).

Tabel 1. Sistem skoring keparahan penyakit hawar batang bergetah oleh Dydimella bryoniae pada Semangka.

Skor (nilai)

Kriteria

1

Tidak ada gejala

2

Daun menguning (hanya indikasi tanaman sakit)

3

Gejala ringan, pada daun terjadi nekrosis <20%

4

Gejala sedang, pada daun terjadi nekrosis 21 – 45%

5

Gejala meluas, pada daun terjadi nekrosis >45%

6

Gejala ringan, pada daun terjadi nekrosis <20%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang <3 mm

7

Gejala sedang, pada daun terjadi nekrosis 21 – 45%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang 3 – 5 mm

8

Gejala meluas, pada daun terjadi nekrosis >45%; dan adanya nekrosis pada petiole dan batang sepanjang >5 mm

9

Tanaman mati

Sumber : Gusmini et al dalam Sastrahidayat (2011)

Mengingat sistem skoring ini belum menunjukkan keparahan penyakit dalam bentuk persentase yang umumnya menjadi panduan umum, maka dari skor yang didapat tersebut dikelompokkan menjadi sistem numerik dengan mengggunakan rumus yang umum diacu dalam proteksi tumbuhan (Anonim,1984) sebagai berikut:

I= Sigma (n x v)/Zx N x 100 %

I = Tingkat serangan (%), n = jumlah skor yang sama, v = nilai skor, N = jumlah sampel yang diamati, Z = nilai skor tertinggi

Tabel 2. Sistem skoring penyakit

Nilai skala

Tingkat kerusakan tanaman (%)

0

1

2

3

4

5

Tidak ada gejala serangan

> 0 – 20

> 20 – 40

> 40 – 60

> 60 – 80

> 80 – 100

Sumber :  (Lologau, 2006)

Pada dasarnya, jenis serangan penyakit dibedakan menjadi dua metode yaitu metode non sistemik dan metode sistemik, sehingga rumus penghitungan intensitas serangan adalah sebagai berikut:

  1. Non Sistemik ( Tidak Menyeluruh)
    I= Sigma (n x v)/Zx N x 100 %

Keterangan :

I = Intensitas serangan ( % )

n = Jumlah tanaman yang memiliki kategori skala kerusakan yang sama

v = Nilai skala kerusakan dari tiap kategori serangan

Z = Nilai skala kerusakan tertinggi

N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman yang diamati

  • Sistemik (menyeluruh)
    I=a/b x 100 %

I = Tingkat serangan (%),

a = jumlah tanaman yang terserang,

b = jumlah tanaman yang diamati

 

BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan

  1.  Alat
    1. Alat Tulis

2. Alat hitung

  1.  Bahan
    Dalam praktikum tersebut bahan yang digunakan yaitu tanaman yang terkena penyakit.

2.2.  Cara Kerja

Mengambil contoh (sampel) tanaman pada petak tanaman dengan luas dan jumlah tanaman tertentu untuk mengukur intensitas penyakit. Karena pengamatan pada seluruh populasi tanaman tidak efisien, tidak praktis, dan bersifat destruktif.. Melakukan penilaian Intensitas penyakit sesuai jenis penyakit dan tipe gejala serta kerusakan yang ditimbulkan dengan menggunakan cara penghitungan atau pengukuran yang tepat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil Penghitungan keparahan penyakit :

Jenis serangan dibedakan menjadi dua kriteria yaitu serangan secara non sistemik yaitu mekanisme serangan yang terjadi pada bagian tertentu tanaman misalnya daun dan tidak menyeluruh di seluruh bagian tanaman, sehingga tidak lantas menyebabkan tanaman mati. Sedangkan, serangan secara sistemik yaitu seranagan penyakit yang langsung menyebabkan tanaman mati, di dalam suatu lahan metode sistemik ini diterapkan dengan menghitung persentase tanaman yang mati.

Pada praktikum epidemiologi penyakit tumbuhan, kami membawa tanaman dengan jenis serangan secara sistemik dan non sistemik. Berikut adalah hasil penilaian intensitas serangannya dari masing – masing kelompok:

  • Kelompok I

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 6 helai daun yang dinilai, 4 helai daun mendapat skor 1, 1 helai daun mendapat skor 2 dan 1 daun mendapat skor 5.

= 36,67%

Sistemik

     Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 7 dari 15 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 46,67%

 

  • Kelompok II

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 5 helai daun yang dinilai, 2 helai daun mendapat skor 1, 1 helai daun mendapat skor 3 dan 2 daun mendapat skor 4.

= 65%

Sistemik              

Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 5 dari 25 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 20%

  • Ø Kelompok III

Non-sistemik :

Dari hasil penilaian, diperoleh data sebagai berikut:

Dari 8  helai daun yang dinilai, 2 helai daun mendapat skor 0, 1 helai daun mendapat skor 1, 3 daun mendapat skor 3 dan 2 daun mendapat skor 4.

 

Sistemik

Pada penilaian contoh serangan sistemik, terdapat 15 dari 30 tanaman dalam suatu petak yang terserang penyakit secara menyeluruh sehingga menyebabkan tanaman mati. Sehingga pengukuran intensitas serangan dihitung dengan rumus berikut:

= 50 %


Pembahasan

Pengukuran penyakit seringkali masih bersifat subjektif sehingga dalammengkuantitatifkan penyakit perlu dibuat standard diagram yang spesifik untuk masing-masing jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi, dan bagian tanaman yang terserang, misalnya daun muda, daun tua, atau keseluruhan daun (Sinaga, 2006). Diseases severity (DS) atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman. Intensitas penyakit merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit, baikk pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009).

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui seberapa parah intensitas penyakit yang ada pada suatu area tanam dan menentukan tingkat serangan pertanaman dalam populasi. Oleh karena itu terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intensitas atau keparahan penyakit. Dua diantaranya adalah metode kelas serangan (skoring) dan metode proporsi langsung. Kedua metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial (tidak sistemik), contohnya bercak daun.

Metode kelas serangan atau skoring menggunakan pembagian kelas atau skor dalam menilai skala kerusakan tanaman. Terdapat lima kelas ditambah satu kelas 0. Pada daun jeruk yang kami amati, penilaian tergantung dari seberapa luas (%) permukaan daun yang terserang bercak lalu diberi skor sesuai dengan selang nilai kelas serangannya. Metode proporsi langsung tidak menggunakan pembagian kelas serangan atau skor.

Pada praktikum ini, penghitungan intensitas serangan dilakukan dengan metode skoring. Dari hasil perhitungan kelompok 1 diperoleh nilai  I = 36,6% pada contoh serangan secara sistemik dan I = 46, 66 % pada serangan sistemik. Kelompok 2 mendapat hasil perhitungan I = 65 % untuk serangan non- Sistemik dan I = 20 % untuk serangan sistemik. Sedangkan hasil perhitungan dari kelompok 3 sebagai berikut I= 45% untuk serangan non-sistemik dan I = 50% untuk serangan sistemik. Dari masing – masing perkitungan hasil tersebut kemudian dapat ditafsirkan seberapa besar tingkat kehilangan hasilnya (Crop Loss) yaitu rata – rata 50 %.

KESIMPULAN

   Penilaian kehilangaan hasil dapat dilakukan dengan cara mengukur tingkat atau Intensitas serangan suatu penyakit terhadap tanaman. Sedangkan pengukuran Intensitas serangan dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satunya yaitu dengan metode skoring.

DAFTAR PUSTAKA

Sastrahidayat, R. I. 2011. EPIDEMIOLOGI TEORITIS PENYAKIT TUMBUHAN. UB Press Universitas Brawijaya. Malang.

Lologau, Baso Aliem. 2006. TINGKAT SERANGAN LALAT PENGOROK DAUN, Liriomyza huidobrensis (BLANCHARD) DAN KEHILANGAN HASIL PADA TANAMAN KENTANG. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: